Budaya

Tak Bergeser Meski Diangkat Puluhan Warga? Kisah Keramatnya Arca Lembu di Taman Bali

Masyarakat mempercayai arca itu diapakai sebagai toilet pada masa kerajaan dahulu.

Tak Bergeser Meski Diangkat Puluhan Warga? Kisah Keramatnya Arca Lembu di Taman Bali
Istimewa
arca-lembu-yang-merupakan-situs-peninggalan-kerajaan 

Sekitar tahun 1980an, warga Desa Pakraman Taman Bali sempat berupaya memperbaiki posisi arca serta meninggikan dengan cara mengangkat arca lembu ini sebagai bentuk penghormatan.

Namun harapan tersebut pupus, lantaran arca lembu ini tidak bisa diangkat, meskipun terdapat puluhan krama yang terlibat kala itu dengan media sanan tali.

“Kalau posisinya tetap di bawah, seperti tidak ada rasa menghormati peninggalan raja. Tapi saat kami lakukan upaya pengangkatan tidak bisa. Jadi posisinya sekarang masih tetap, sedikit miring ke kiri,” katanya.

Baca: Tak hanya Perempuan, Para Pria Juga Berburu Diskon Beli 1 Gratis 2 di Matahari Megamal

Sebagaimana tempat yang dikeramatkan, masyarakat sekitar kerap menghaturkan sesaji di arca lembu ini, terutama saat rahinan tumpek landep.

Mantan Perbekel Taman Bali tahun 1970 hingga 1982 ini mengatakan, arca lembu tersebut juga dipercaya mampu menyembuhkan hewan ternak yang sakit.

“Masyarakat percaya kalau ada hewan ternaknya yang sakit apakah itu sapinya, babinya, mereka (masyarakat) membawa air suci dari rumah, untuk selanjutnya dimohonkan ke sini,” ujarnya.

Dewa Manacika mengatakan, selain arca lembu, peninggalan Kerajaan Taman Bali lainnya yang merupakan sisa peperangan dengan kerajaan Bangli silam, antara lain berupa tempat pemandian raja yang disebut Taman Narmada Bali Raja, Bale Mas (tempat penyimpanan harta kerjaan), sejumlah patung berukuran besar, hingga satu tempat yang disebut pajenengan di Pura Puser Jagat yang konon merupakan tempat penyimpanan persenjataan.

“Ada sebuah lubang yang diatasnya terdapat batu besar. Mungkin itu sebagai penanda, sebab diyakini di lubang itu tersimpan berbagai persenjataan termasuk dengan mule (perhiasan)."

Baca: 534 peserta mengikuti UTBK di Hari kedua

"Leluhur kami juga menceritakan bahwa batu besar itu juga digunakan sang raja sebagai sandaran saat hendak naik kuda melihat rakyatnya,” tutur Dewa Manacika.

Ia menambahkan, dengan berbagai situs peninggalan kerajaan yang masih tersisa, ada keinginan besar darinya sejak dulu, untuk mengembangkan pariwisata di Desa Taman Bali menjadi desa wisata sejarah sejak tahun 1987, serta pembuatan museum Kerajaan Taman Bali.

Halaman
123
Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved