Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Populer di Cina, Balapan Burung Merpati Berhadiah Miliaran Rupiah

Setiap tahun, Zhang harus menggelontorkan setidaknya 100.000 yuan, atau sekitar Rp 210,2 juta, kepada burung daranya sebagai biaya perawatan.

Tayang:
Editor:
wartakota
Ilustrasi Burung Merpati 

Saat hari balapan tiba, truk berisi burung dara aduan itu bakal dibawa berkilo-kilometer jauhnya ke sebuah tempat sebelum dilepaskan.

Mereka bakal terbang secepat mungkin hingga ke rumah mereka. Si pemilik kemudian bakal memindai perangkat elektronik yang dipasang sebelumnya.

Data dari perangkat itu akan sampai ke panitia balapan, yang bakal mengunggah nama pemenang balapan ke internet, dan membayar uang hadiah ke pemilik.

Biaya untuk mendaftarkan burung aduannya hanya bernilai beberapa yuan. Namun, ada pemilik yang sengaja mendaftarkan banyak burung agar kans menang lebih besar.

Sementara bagi pemilik dan pembalap seperti Zhang yang terkendala biaya, mereka bakal sangat selektif memilih burung yang dirasa paling besar peluang menangnya.

Olahraga Berbiaya Mahal

Di tengah pagi buta, Zhang melepaskan burung dara miliknya di Niutuo, dan memperhatikan jika mereka kembali pulang dengan kamera yang terhubung ke ponsel.

Zhang, mantan manajer sebuah perusahaan makanan milik negara, sangat senang dengan kecepatan burungnya, dan merasa investasinya tidak sia-sia.

Setiap tahun, Zhang harus menggelontorkan setidaknya 100.000 yuan, atau sekitar Rp 210,2 juta, kepada burung daranya sebagai biaya perawatan.

Biaya tersebut mencakup pakan, obat-obatan, biaya pendaftaran, transportasi pelatihan, hingga membeli kamera yang dipasang di kandang.

Dia mengaku tidak menghitung berapa banyak yang sudah ia keluarkan. "Namun yang saya tahu, saya kehilangan uang. Begitu juga yang lain," papar dia.

Burung aduan miliknya rata-rata adalah keturunan Belgia dan Belanda. Jauh lebih besar dan kuat dibanding merpati lokal yang hanya dibiakkan sebagai peliharaan.

Setiap musim semi, Zhang menjelaskan ada sekitar 100 ekor burung dara yang lahir. Namun jumlah itu pada akhirnya menyusut menjadi 20 ekor saja.

Penyusutan signifikan itu terjadi karena beberapa faktor, seperti mati karena sakit atau terluka saat balapan karena menabrak tiang, atau tersesat saat pulang ke rumah.

Menurut Zhang, bagian paling menarik dari olahraga ini adalah penuh dengan ketidakpastian. Bisa saja burung yang jadi juara di satu musim balapan malah menjadi pecundang di musim depan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved