Sejarah
Hari Ini 2 April 2005 Paus Yohanes Paulus II Wafat, Ini Fakta-fakta Semasa Hidup Beliau
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Enam hari berselang, 2 juta orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Vatikan untuk menghadiri pemakamannya
Dia kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tetapi Ali Agca dibebaskan pada 2010 setelah mendapat sejumlah keringanan hukuman dan adanya perubahan dalam undang-undang pidana Italia.
Setelah sembuh dari lukanya dan mengetahui Ali Agca dipenjara, Paus Yohanes Paulus II meminta umat Katolik mendoakan pria Turki itu.
"Saya sudah memaafkan saudara saya itu," kata Paus Yohanes Paulus II.
Dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara Rebibbia, Roma.
Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama.
Setelah pertemuan ini, Paus kemudian berkata: "Apa yang kita bicarakan harus merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya."
Kebaikan hati Paus Yohanes Paulus II tak berhenti sampai di situ, ia juga bertemu ibu Ali Agca pada 1987 dan kakakya, Muezzin Agca, satu dekade kemudian.
Meski pernah mencoba membunuh Paus Yohanes Paulus II, tetapi belakangan hubungan Ali Agca dan orang yang hendak dibunuhnya itu semakin erat.
Bahkan pada 2005, di saat Paus Yohanes Paulus II terbaring sakit, Ali Agca mengirimkan surat dan mendoakan Paus agar cepat sembuh.
Pada 2008, Ali Agca pernah meminta untuk mendapatkan status kewarganegaraan Polandia dan ingin menghabiskan hidupya di negeri itu.
Pada 27 Desember 2014, Ali Agca mengunjungi makam Paus Yohanes Paulus II dan meletakkan karangan bunga.
Dari kelahiran hingga menjadi Paus
Paus Yohanes Paulus II terlahir dengan nama Karol Jozef Wojtyla di Wadowice, Polandia pada 18 Mei 1920. Usai lulus dari SMA, Wojtyla kemudian masuk ke Universitas Jagiellonian di kota Krakow untuk belajar filsafat, sastra, dan tampil dalam sejumlah pementasan drama.
Lalu Perang Dunia II pecah dan Nazi Jerman menduduki Polandia, termasuk kota Krakow. Akibatnya, universitas tempat Wojtyla menimba ilmu ditutup. Alhasil, Wojtyla terpaksa bekerja di tambang dan kemudian di pabrik bahan kimia.
Pada 1941, ibu, ayah, dan saudara laki-laki Wojtyla meninggal dunia dan membuatnya menjadi sebatang kara. Meski Wojtyla amat rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan gereja, baru pada 1942 dia masuk seminari untuk menjadi imam Gereja Katolik.
Saat Perang Dunia II berakhir, Wojtyla meneruskan kuliahnya yang terputus di Universitas Jagellonian dan kali ini dia mendalami ilmu Teologi.
Setelah resmi menjadi imam pada 1946, Wojtyla berhasil menyelesaikan dua kuliah doktor dan menjadi profesor dalam bidang teologi moral dan etika sosial.
Pada 4 Juli 1958 saat berusia 38 tahun, Wojtyla ditunjuk Paus Pius XII menjadi uskup pembantu di Krakow sebelum menjadi uskup agung kota itu. Saat menjadi uskup agung Krakow, Wojtyla dengan lantang menyuarakan kebebasan beragama sementara di sisi lain Konsisi Vatikan Kedua digelar yang akan merevolusi ajaran Katolik.