Gunung Api Karangetang Masih Berstatus Siaga, Warga Dilarang Mendekat dan Lakukan Pendakian

Akitifitas Gunung api Karangetang belum berhenti dari aktivitasnya. Meski aktivitas puncak kawah tidak terlihat, namun kegempaan tetap terbaca

TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
Gunung api Karangetang 

Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID, SITARO - Akitifitas Gunung api Karangetang belum berhenti dari aktivitasnya. Meski aktivitas puncak kawah tidak terlihat, namun kegempaan tetap terbaca pada Minggu (31/3)

Tercatat untuk hybrid terjadi empat kali dengan amplitudo 7-9 mm, S-P : 0 detik, durasi 20-25 detik, vulkanik dangkal empat kali dengan amplitudo 3-4 mm, durasi 3-5 detik, tektonik jauh tiga kali dengan amplitudo 5-16 mm, S-P : tidak terbaca, durasi 35-85 detik, dan microtremor  terekam dengan amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm).

Namun pada sore hari puncak kawah tidak teramati juga.

Namun untuk kegempaan tercatat hembusan terjadi tiga kali dengan amplitudo 5 mm, durasi 12-15 detik, hybrid 5 kali, dengan amplitudo 5-12 mm, S-P : 0 detik, durasi 13-16 detik, vulkanik dangkal dua kali dengan amplitudo 5-8 mm, durasi 5 detik, tektonik jauh 3 kali dengan  amplitudo 10-32 mm, S-P : 18-25 detik, berdurasi 45-115 detik, serta microtremor terekam dengan amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm).

"Status gunung Karangetang masih pada level III atau siaga," jelas Yudia Tatipang Kepala pos PGA Karangetang.
Untuk rekomendasi PVMBG Bandung pun belum berubah, warga masih tetap yaitu dilarang mendekati, melakukan pendakian atau beraktivitas di dalam zona bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak kawah dua (Kawah Utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat-Baratlaut sejauh 3 km dan ke arah Baratlaut-Utara sejauh 4 km.

Baca: Spontan, Iriana Joko Widodo Duduk Melantai dan Ajak Foto Bersama dengan Wartawan Sulut

Warga yang berada di area Baratlaut-Utara dari Kawah Dua, di antaranya Kampung Niambangeng, Beba dan Batubulan agar dievakuasi ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas guguran gunung Karangetang yaitu di luar zona bahaya.

Masyarakat tetap dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

Baca: Kampanye di Sulses, Jokowi Yakini Pendukungnya Bahwa Tentara Indonesia Terkuat di Asia Tenggara

Baca: 9 Kali Dicegat Warga Manado di Jalan, Jokowi: Negara Mana, Presiden Bisa Dicegat?

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai. (Amg)

TONTON JUGA:

Penulis: Alpen_Martinus
Editor: Rhendi Umar
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved