Gunung Karangetang Masih Fluktuatif

Pada Jumat (29/3) pagi, puncak kawah Gunung Karangetang tidak terlihat lantaran tertutup kabut tebal.

Gunung Karangetang Masih Fluktuatif
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
Gunung api Karangetang 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID, SITARO - Gunung api Karangetang masih terus memperlihatkan aktivitasnya.

Pada Jumat (29/3) pagi, puncak kawah Gunung Karangetang tidak terlihat lantaran tertutup kabut tebal.

Sementara untuk kegempaan tercatat guguran sebanyak 4 kali dengan amplitudo 3 mm, durasi 30-35 detik, hybrid enam kali dengan amplitudo 4-9 mm, S-P 0 detik, durasi 8-15 detik, vulkanik dangkal 3 kali dengan 3-4 mm, durasi 4-5 detik, vulkanik dalam 5 kali dengan amplitudo 6-44 mm, S-P : 0.5 detik, durasi 7-15 detik, tektonik lokal sekali, amplitudo 50 mm, S-P : 4 detik, durasi 25 detik, tektonik jauh 3, amplitudo  9-21 mm, S-P : 10-15 detik, durasi 45-70 detik, juga microtremor terekam dengan amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm).

Baca: Surya Paloh Ketum Nasdem Sambangi Kantor Tribun Manado

Baca: Gubernur Jamu Ribuan Peserta Jalan Santai Pemilu Rukun Tanpa Golput, Sarapan Makanan Khas Sulut

Baca: Pengakuan Tersangka Pembunuhan Melinda Zidemi, Ternyata Cinta Terpendam hingga Rencana Pemerkosaan

"Aktivitas Karangetang masih pada level III atau siaga," jelas Aditya Gurasali petugas pos PGA Karangetang.

Sedangkan rekomendasi PVMBG Bandung pun belum berubah, warga masih tetap yaitu dilarang mendekati,  melakukan pendakian atau beraktivitas di dalam zona bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak kawah dua (Kawah Utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat-Baratlaut sejauh 3 km dan ke arah Baratlaut-Utara sejauh 4 km.

Warga yang berada di area Baratlaut-Utara dari Kawah Dua, di antaranya Kampung Niambangeng, Beba dan Batubulan agar dievakuasi ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas guguran gunung Karangetang yaitu di luar zona bahaya.

Masyarakat tetap dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

Penulis: Alpen_Martinus
Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved