Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Laba Niaga dan Danamon Masih Tumbuh

Perbankan masih mencetak laba besar tahun 2018. Torehan laba ini datang dari dua bank swasta Bank Danamon dan CIMB Niaga

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
Bank Danamon 

 
 

n

Laba Bersih

 
NPL

 
NIM

 
CAR

 
ROA

 
ROE

 
2017

 
2018

 
yoy

 
2017

 
2018

 
2017

 
2018

 
2017

 
2018

 
2017

 
2018

 
2017

 
2018

 
3,68

 
3,92

 
6,5%

 
2,8%

 
2,7%

 
9,30%

 
9,00%

 
22,20%

 
22,00%

 
2,10%

 
2,20%

 
10,50%

 
10,60%

 
2,97

 
3,48

 
17,17%

 
3,75%

 
3.11%

 
5,60%

 
5,12%

 
18,60%

 
19,66%

 
1,70%

 
1,85%

 
8,73%

 
9,49%

 
Ket : Dalam Rp triliun

Sumber : Laporan Keuangan

 
Sistem Pembayaran LinkAja Siap Meluncur

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memastikan, layanan dompet digital LinkAja bakal dirilis dalam waktu dekat. Bila tak ada halangan, LinkAja akan meluncur pada awal  Maret 2019.

Rini menjelaskan, tujuan pembentukan platform keuangan digital ini untuk mempermudah transaksi pembayaran dalam satu wadah. "LinkAja juga menyasar masyarakat hingga ke pelosok Indonesia," kata dia, kemarin.

Ada beberapa tahapan yang bakal dilakukan sebelum
LinkAja secara resmi diluncurkan. Mengutip laman resmi LinkAja, pada 22 Februari 2019. Telkomsel akan secara resmi meluncurkan LinkAja sebagai peleburan dari layanan dompet digital miliknya yakni T-Cash. 

Setelah itu, pada awal Maret 2019, LinkAja akan memiliki layanan dompet digital yang lebih lengkap. Beberapa layanan dompet digital BUMN yang digabung dalam satu platform ini. Antara lain e-cash milik Bank Mandiri, UnikQu dan yap! milik Bank BNI, Tbank dan My QR milik milik Bank BRI.

Sumber KONTAN mengatakan, bukan hanya bank plat merah dan T-Cash saja yang masuk, nantinya MyPertamina milik PT Pertamina juga akan ikut serta ke dalam wadah LinkAja. "Pada 22 Februari 2019 itu ada pre-launch TCash menjadi LinkAja, awal Maret 2019 launching, sudah ada Himbara (Bank BUMN) dan Pertamina di dalamnya," ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh  dompet digital milik masing-masing BUMN akan secara langsung berganti nama pada saat peluncuran platform tersebut. Seluruh mekanisme transaksi maupun isi ulang saldo (top up) tetap sama atau hanya berganti nama. Selain itu, pengguna masing-masing dompet digital milik BUMN tersebut tidak perlu melakukan registrasi ulang untuk dapat menggunakan layanan LinkAja.

Pun, seluruh saldo para pengguna layanan BUMN sebelumnya akan dikonversi secara otomatis menjadi saldo di akun LinkAja dengan nilai yang sama.

Platform LinkAja hanya mengganti seluruh produk dompet digital milik bank BUMN. Artinya, uang elektronik seperti e-money, TapCash dan Brizzi tidak akan berubah nama maupun fungsi.

Sementara, untuk mekanisme operasional dan pengelolaan LinkAja nantinya akan dikendalikan dalam satu perusahaan BUMN yaitu PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Perusahaan yang saat ini 99,99% sahamnya dimiliki oleh Telkomsel ini akan ikut melebur. "Nanti sahamnya akan dibagi-bagi antara Himbara, Telkomsel dan Pertamina masing-masing," tambah sumber KONTAN.

Direktur Utama Bank  BanK Tabungan Negara (BTN)
Maryono yang juga menjabat Ketua Himbara sudah membocorkan pembagian saham di Link Aja. Dia menjelaskan,  BTN akan memegang saham sebesar 7% di dalam perusahaan tersebut. Namun, Maryono tidak dapat merinci kepemilikan saham BUMN yang lain di Finarya.

BCA Menegaskan, Bank Hasil Akuisisi Tidak Masuk Segmen UKM

Rencana akuisisi oleh Bank Central Asia (BCA) semakin terang benderang. Setelah dikabarkan mengantongi nama satu bank yang akan dicaplok, BCA juga telah bertemu secara rutin untuk mengurus perizinan aksi korporasi tersebut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun,  saat ini pihaknya masih melakukan kajian terkait segmen bisnis bank yang disasar tersebut.

Saat dikonfirmasi, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menegaskan, calon bank yang akan diakuisisi tersebut tidak akan masuk ke segmen usaha kecil dan menengah (UKM) sebagaimana digaungkan sejak lama oleh bank ini. "Akuisisi (bank) bukan untuk UKM," kata Jahja kepada KONTAN, Rabu (20/2). Padahal, saat ini porsi kredit UKM BCA terhadap total kredit masih cukup rendah yakni sekitar 12% sampai 13%. Jumlah ini berada jauh di bawah kewajiban bank yang ditetapkan sebesar 20% di tahun 2018.

Sebelumnya, merujuk Harian KONTAN Selasa (20/2) disebut kalau BCA akan mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia. Informasi terang mengenai identitas bank yang sedang dibidik BCA ini datang dari pihak OJK.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, rencana akuisisi BCA sudah mendekati tahap akhir. "Kan sudah disebut-sebut terus BCA dan Bank Royal Indonesia. Tanyakan ke Pak Jahja, sudah dekat itu," ujar Heru (19/2).

Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki PT Royalindo Investama Wijaya ini memang sesuai dengan kriteria yang diisyaratkan oleh Jahja, yaitu masuk dalam kategori BUKU I dengan modal inti di bawah Rp 1 triliun dan bukan perusahaan terbuka.

Nah, bila merujuk pada laporan keuangan kuartal III 2018 Bank Royal tercatat memiliki modal inti dan modal pelengkap sebanyak
Rp 336,42 miliar. Sementara untuk modal inti (tier 1) sebesar Rp 330,01 miliar per akhir September 2018. Adapun, berdasarkan laporan keuangan tahun 2017, mayoritas penyaluran kredit Bank Royal Indonesia masuk ke sektor industri dan perdagangan. (Maizal Walfajri/Marshall Sautlan/Auriga A/Marshall S/Anggar S/Maizal Walfajri/Anggar Septiadi)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved