Laba Niaga dan Danamon Masih Tumbuh
Perbankan masih mencetak laba besar tahun 2018. Torehan laba ini datang dari dua bank swasta Bank Danamon dan CIMB Niaga
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Perbankan masih mencetak laba besar tahun 2018. Torehan laba ini datang dari dua bank swasta Bank Danamon dan CIMB Niaga Tbk yang kemarin (20/2) merilis kinerja tahunan 2018.
Mari kita lirik Bank CIMB Niaga. Bank yang sudah berdiri sejak tahun 1955 itu berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sebesar dua digit. Selama tahun 2018 Niaga berhasil menggaet laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,5 triliun sepanjang 2018. Nilai ini naik sebesar 16,9% secara tahunan. Tahun 2017, Niaga cuma mendapatkan laba sebesar Rp 2,97 triliun.
Pertumbuhan laba bersih tersebut didukung oleh pendapatan non bunga atau non interest income yang naik sebesar 13,8% menjadi Rp3,8 triliun. Bank ini juga berhasil menurunkan biaya kredit sebesar 63 basis poin (bps) dari 2,26% menjadi 1,63%.
Begitupun dengan rasio loan loss coverage CIMB Niaga berada di level yang aman, yakni sebesar 105,86%. "Kami akan terus menjaga target pertumbuhan sekaligus memperhatikan kualitas aset sebagai prioritas utama," ujar Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur CIMB Niaga, kemarin.
Sementara terkait penyaluran kredit, tahun lalu berhasil tumbuh 1,8% menjadi Rp 188,5 triliun. Kinerja kredit ditopang oleh pertumbuhan pada kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 11,2% menjadi Rp 30 triliun. Diikuti kredit usaha kecil, dan menengah (UKM) sebesar 8,5% menjadi Rp 29,6 triliun dan kartu kredit sebesar 5,5% menjadi Rp 8,6 triliun.
Pertumbuhan kredit
Sementara kinerja Bank Danamon cuma bisa bertumbuh cukup tipis. Bank yang melantai di bursa dengan kode saham BDMN ini meraup laba bersih sebesar
Rp 3,92 triliun sepanjang tahun 2018. Tumbuh 6,51% dibandingkan 2017 senilai
Rp 3,68 triliun.
Direktur Utama Danamon Sng Seow Wah menyatakan, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit di berbagai segmen yang tumbuh dobel digit. Di segmen UKM tumbuh 10% dengan penyaluran senilai
Rp 31,2 triliun.
Lalu pertumbuhan di segmen korporat mencapai 11% senilai Rp 41,5 triliun. "Sedangkan di segmen konsumer, khususnya KPR tumbuh mencapai 29% mencapai Rp 7,8 triliun," kata Wah.
Performa kredit ini juga diikuti rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross Danamon yang menyusut ke level 2,7% dari 2,8% pada tahun lalu.
Ditambah semakin efisiennya biaya kredit yang ditekan di level 2,5% dari tahun sebelumnya sebesar 2,8%. Sementara rasio kecukupan modal Bank Danamon meningkat tipis, ke level 22,2%.
Kinerja Bank Danamon dan CIMB Niaga
Kinerja Bank
Aset
Kredit
DPK
2017
2018
YOY
2017
2018
YOY
2017
2018
YOY
Bank Danamon
178,25
186,76
4,70%
139,49
129,72
7,50%
124,56
131,976
5,95%
Bank CIMB Niaga
266,3
266,78
0,18%
185,11
188,46
1,80%
189,3
190,72
0,75%
n
Laba Bersih
NPL
NIM
CAR
ROA
ROE
2017
2018
yoy
2017
2018
2017
2018
2017
2018
2017
2018
2017
2018
3,68
3,92
6,5%
2,8%
2,7%
9,30%
9,00%
22,20%
22,00%
2,10%
2,20%
10,50%
10,60%
2,97
3,48
17,17%
3,75%
3.11%
5,60%
5,12%
18,60%
19,66%
1,70%
1,85%
8,73%
9,49%
Ket : Dalam Rp triliun
Sumber : Laporan Keuangan
Sistem Pembayaran LinkAja Siap Meluncur
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memastikan, layanan dompet digital LinkAja bakal dirilis dalam waktu dekat. Bila tak ada halangan, LinkAja akan meluncur pada awal Maret 2019.
Rini menjelaskan, tujuan pembentukan platform keuangan digital ini untuk mempermudah transaksi pembayaran dalam satu wadah. "LinkAja juga menyasar masyarakat hingga ke pelosok Indonesia," kata dia, kemarin.
Ada beberapa tahapan yang bakal dilakukan sebelum
LinkAja secara resmi diluncurkan. Mengutip laman resmi LinkAja, pada 22 Februari 2019. Telkomsel akan secara resmi meluncurkan LinkAja sebagai peleburan dari layanan dompet digital miliknya yakni T-Cash.
Setelah itu, pada awal Maret 2019, LinkAja akan memiliki layanan dompet digital yang lebih lengkap. Beberapa layanan dompet digital BUMN yang digabung dalam satu platform ini. Antara lain e-cash milik Bank Mandiri, UnikQu dan yap! milik Bank BNI, Tbank dan My QR milik milik Bank BRI.
Sumber KONTAN mengatakan, bukan hanya bank plat merah dan T-Cash saja yang masuk, nantinya MyPertamina milik PT Pertamina juga akan ikut serta ke dalam wadah LinkAja. "Pada 22 Februari 2019 itu ada pre-launch TCash menjadi LinkAja, awal Maret 2019 launching, sudah ada Himbara (Bank BUMN) dan Pertamina di dalamnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh dompet digital milik masing-masing BUMN akan secara langsung berganti nama pada saat peluncuran platform tersebut. Seluruh mekanisme transaksi maupun isi ulang saldo (top up) tetap sama atau hanya berganti nama. Selain itu, pengguna masing-masing dompet digital milik BUMN tersebut tidak perlu melakukan registrasi ulang untuk dapat menggunakan layanan LinkAja.
Pun, seluruh saldo para pengguna layanan BUMN sebelumnya akan dikonversi secara otomatis menjadi saldo di akun LinkAja dengan nilai yang sama.
Platform LinkAja hanya mengganti seluruh produk dompet digital milik bank BUMN. Artinya, uang elektronik seperti e-money, TapCash dan Brizzi tidak akan berubah nama maupun fungsi.
Sementara, untuk mekanisme operasional dan pengelolaan LinkAja nantinya akan dikendalikan dalam satu perusahaan BUMN yaitu PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Perusahaan yang saat ini 99,99% sahamnya dimiliki oleh Telkomsel ini akan ikut melebur. "Nanti sahamnya akan dibagi-bagi antara Himbara, Telkomsel dan Pertamina masing-masing," tambah sumber KONTAN.
Direktur Utama Bank BanK Tabungan Negara (BTN)
Maryono yang juga menjabat Ketua Himbara sudah membocorkan pembagian saham di Link Aja. Dia menjelaskan, BTN akan memegang saham sebesar 7% di dalam perusahaan tersebut. Namun, Maryono tidak dapat merinci kepemilikan saham BUMN yang lain di Finarya.
BCA Menegaskan, Bank Hasil Akuisisi Tidak Masuk Segmen UKM
Rencana akuisisi oleh Bank Central Asia (BCA) semakin terang benderang. Setelah dikabarkan mengantongi nama satu bank yang akan dicaplok, BCA juga telah bertemu secara rutin untuk mengurus perizinan aksi korporasi tersebut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, saat ini pihaknya masih melakukan kajian terkait segmen bisnis bank yang disasar tersebut.
Saat dikonfirmasi, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menegaskan, calon bank yang akan diakuisisi tersebut tidak akan masuk ke segmen usaha kecil dan menengah (UKM) sebagaimana digaungkan sejak lama oleh bank ini. "Akuisisi (bank) bukan untuk UKM," kata Jahja kepada KONTAN, Rabu (20/2). Padahal, saat ini porsi kredit UKM BCA terhadap total kredit masih cukup rendah yakni sekitar 12% sampai 13%. Jumlah ini berada jauh di bawah kewajiban bank yang ditetapkan sebesar 20% di tahun 2018.
Sebelumnya, merujuk Harian KONTAN Selasa (20/2) disebut kalau BCA akan mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia. Informasi terang mengenai identitas bank yang sedang dibidik BCA ini datang dari pihak OJK.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, rencana akuisisi BCA sudah mendekati tahap akhir. "Kan sudah disebut-sebut terus BCA dan Bank Royal Indonesia. Tanyakan ke Pak Jahja, sudah dekat itu," ujar Heru (19/2).
Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki PT Royalindo Investama Wijaya ini memang sesuai dengan kriteria yang diisyaratkan oleh Jahja, yaitu masuk dalam kategori BUKU I dengan modal inti di bawah Rp 1 triliun dan bukan perusahaan terbuka.
Nah, bila merujuk pada laporan keuangan kuartal III 2018 Bank Royal tercatat memiliki modal inti dan modal pelengkap sebanyak
Rp 336,42 miliar. Sementara untuk modal inti (tier 1) sebesar Rp 330,01 miliar per akhir September 2018. Adapun, berdasarkan laporan keuangan tahun 2017, mayoritas penyaluran kredit Bank Royal Indonesia masuk ke sektor industri dan perdagangan. (Maizal Walfajri/Marshall Sautlan/Auriga A/Marshall S/Anggar S/Maizal Walfajri/Anggar Septiadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bank-danamon_20171109_180305.jpg)