Douglas MacArthur: Begini Akhir Cerita Sang Komandan Tertinggi di PD II
Siapa yang tak kenal Douglas MacArthur. Ia merupakan perwira tinggi Amerika Serikat (AS) baik di masa Perang Dunia I hingga Perang Korea.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Siapa yang tak kenal Douglas MacArthur. Ia merupakan perwira tinggi Amerika Serikat (AS) baik di masa Perang Dunia I hingga Perang Korea.
Dia menjadi terkenal karena kiprahnya sebagai Komandan Tertinggi Sekutu serta strateginya di Front Pasifik saat Perang Dunia II. Selain itu, dia juga memimpin pasukan yang dikoordinasi PBB saat Perang Korea yang kemudian terbagi menjadi Utara serta Selatan.
Atas berbagai prestasinya, dia mendapat pangkat tertinggi kedua di AS General of the Army, yakni jenderal berbintang lima. Kemudian pada 24 Agustus 1936, Presiden Filipina Manuel Quezon mengangkatnya sebagai penasihat militer dengan pangkat Field Marshal. Dikutip dari berbagai sumber, berikut merupakan biografi dari MacArthur.
Masa Kecil MacArthur lahir pada 26 Januari 1880 di Barak Little Rock, Little Rock, Arkansas, dan berasal dari keluarga militer. Sang ayah, Arthur MacArthur Jr, merupakan Kapten Angkatan Darat AS, sementara ibu MacArthur adalah Mary Pinkney Hardy MacArthur.
Dalam memoirnya Reminiscences, MacArthur mengisahkan dia belajar berkuda dan menembak sebelum dia bisa membaca maupun menulis. Pada Juli 1889, keluarga MacArthur pindah ke Washington di mana Douglas kecil bersekolah di Sekolah Publik Militer.
Setelah mereka pindah ke Sant Antonio, Texas, karena Arthur Jr ditempatkan di sana pada September 1893. Saat itu, MacArthur menempuh pendidikan Akademi Militer Texas Barat. Di sana, dia mendapat medali emas untuk prestasi dan sikapnya. Dia mendapat kehormatan memberi pidato kelulusan dengan skor 97,33 dari 100.
Meski begitu, baik ayah maupun kakeknya sempat gagal memasukkannya ke Akademi Militer West Point. Pertama dari Presiden Grover Cleveland, kedua dari William McKinley. Dia akhirnya berhasil lulus setelah mendapat rekomendasi anggota Kongres Theobald Otjen.
"Saya mendapat pelajaran berharga. Persiapan adalah kunci kesuksesan dan kemenangan," tulisnya. MacArthur masuk akademi pada 13 Juni 1899 dan lulus pada 1903 secara membanggakan. Setelah itu, dia menjadi perwira junior Korps Teknik AD. Selama 10 tahun, MacArthur telah mendapat berbagai posisi dan promosi, serta tugas yang membawanya ke negara seperti Filipina, Jepang, Meksiko, hingga Perancis.
Perang Dunia I dan Sesudahnya Ketika P I berkecamuk, MacArthur dipromosikan sebagai Mayor dan ditempatkan di unit administrasi dan intelijen yang termasuk pos penting. Namun ketika AS mendeklrasikan perang terhadap Jerman, militer segera membentuk Divisi Ke-42, atau Divisi Pelangi, segera dibentuk. Dia mendapat struktur di komando dengan pangkat Kolonel. Pada 1918, dia berpartisipasi dalam sejumlah front pertempuran.
Antara lain di St Mihiel, Meuse-Argonee, dan Sedan di mana dia berulang kali menyebut dirinya sebagai pemimpin militer yang cakap. Setelah kembali dari Eropa, MacArthur menjabat sebagai Pengawas West Point selama tiga tahun, dan pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal. Pada dekade 1920, dia kembali memegang berbagai pos militer serta pernah bertugas sebagai Ketua Komite Olimpiade AS.
Pada 1930, pangkatnya menjadi Jenderal penuh serta dilantik sebagai Kepala Staf AD. Selama beberapa tahun, dia bertugas mempertahankan performa militer. Apalagi, Negeri "Uncle Sam" kala itu tengah dilanda Depresi Hebat. Saat itu, dia juga mulai menyuarakan bahaya Komunis. Pada 1935, Presiden Franklin D Roosevelt menunjuk MacArthur sebagai penasihat militernya di Filipina dan mengirimnya ke sana untuk membantu pembentukan militer.
Perang Dunia II Pada 26 Juli 1941, Presiden Roosevelt memanggil kembali MacArthur untuk bertugas dengan memberikan pangkat Mayor Jenderal saat Perang Dunia II terjadi. Dia menjadi komandan Pasukan AD AS di Timur Jauh (USAFFE). Keesokan harinya dia menerima pangkat Letnan Jenderal, dan Jenderal pada 20 Desember 1941.
Pada 7 Desember 1941, Jepang menyerang pangkalan AS di Pearl Harbor, Hawaii. Kepala Staf AD George Marshall memerintahkan MacArthur segera melaksanakan rencana Rainbow Five. Namun, rencana itu tak dijalankan.
Jepang kemudian mengirim armadanya untuk menginvasi Filipina pada Februari 1942. Oleh Presiden Roosevelt, MacArthur diperintahkan untuk menyingkir ke Australia. Dia bersama keluarganya kemudian berangkat pada 12 Maret 1942.
"Saya datang dan saya akan kembali" merupakan pidato yang dibuat di stasiun Terowie di Australia Selatan, dan menjadi pidato terkenalnya. Pada 18 April 1942, dia menjadi Komandan Tertinggi Sekutu di Front Pasifik Barat Daya (SWPA), dan segera menyusun rencana penyerangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/douglas-macarthur.jpg)