Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Agar Tak Salah Paham, Begini Cara Mengenali Perbedaan Tsunami dan Gelombang Tinggi

Agar Tak Salah Paham, Begini Cara Mengenali Perbedaan Tsunami dan Gelombang Tinggi.

Editor: Siti Nurjanah
via intisari online
Ilustrasi tsunami 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Agar Tak Salah Paham, Begini Cara Mengenali Perbedaan Tsunami dan Gelombang Tinggi.

Bencana tsunami Selat Sunda yang menerjang wilayah Provinsi Banten dan Lampung Sabtu (22/12/2018) lalu sempat menimbulkan polemik dan perdebatan, hal itu ramai setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut bencana itu awalnya bukan tsunami.

Kala itu, BMKG pada awalnya sempat menyebut kejadian di Selat Sunda bukan sebagai tsunami, tapi sebagai gelombang tinggi yang disebabkan adanya bulan purnama yang menimbulkan gaya gravitasi tertentu.

Tak Lama kemudian, BMKG kemudian merevisi pernyataannya dan mengubah gelombang tinggi menjadi tsunami di Selat Sunda setelah melakukan serangkaian analisis.

Baca: Bocah Migran Meninggal Dunia setelah Sakit di Tahanan Patroli Perbatasan AS

Padahal, menurut BMKG, Indonesia merupakan kawasan kepulauan yang memiliki potensi tsunami cukup tinggi, terutama bagi daerah-daerah yang menjadi titik pertemuan lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Nah, apa yang membedakan antara kedua jenis gelombang tersebut?

Baca: Penjelasan BMKG hingga PVMBG Terkait Suara Dentuman Misterius di Sumatera Selatan

Dalam konferensi pers tsunami Selat Sunda di Yogyakarta, Minggu (23/12/2018) kemarin, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan beberapa perbedaan mendasar antara gelombang tinggi dan gelombang tsunami.

Gelombang tinggi karena tiupan angin terjadi secara perlahan dan dengan tanda-tanda bisa diprediksi sebelumnya, misalnya perubahan ekstem sebelum kejadian.

BMKG pun rutin mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di berbagai daerah jika memang diprediksi akan terjadi. Namun tidak dengan tsunami yang kejadiannya tidak dapat diprediksi dan mendadak. 
"Gelombang pasang tidak terjadi seketika, tapi secara pelan. Kalau tsunami, terjadi tadi malam itu, terjadi tiba-tiba. Terjadi tiba-tiba sekali, tidak ada (pertanda). Makanya kalau kita melihat kan masyarakat masih banyak melakukan aktivitas, Band Seventeen masih jalan, baru dua lagu itu," kata Sutopo kepada awak media, seperti dikutip dari Kompas.com.

Kondisi pascatsunami Selat Sunda yang menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan, Sabtu (24/12/2018) malam.
Kondisi pasca tsunami Selat Sunda yang menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan, Sabtu (24/12/2018) malam. (Istimewa.)

Kemudian, dari video di atas dapat dilihat bahwa gelombang tsunami disertai dengan kekuatan dorong yang besar, berbeda dengan gelombang tinggi yang kekuatannya berdasarkan angin.

Hal ini menyebabkan gelombang tsunami memiliki sifat destruktif atau merusak yang lebih besar ketika sudah sampai di daratan dibandingkan dengan gelombang tinggi yang disebabkan oleh angin.

Terakhir, gelombang karena angin hanya terjadi di permukaan saja, sementara gelombang tsunami terjadi dari bagian dalam laut.

Hal itu karena adanya pergerakan lempeng atau dasar lautan yang terjadi secara tiba-tiba sehingga menyebabkan adanya dorongan gelombang dari dalam.

UPDATE: 429 Meninggal Dunia

Sementara itu, buntut dari tsunami Banten, hingga kemarin malam data baru mencatatkan korban meninggal dunia mencapai 429 orang.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved