Thailand Akan Legalkan Ganja, Bagaimana Indonesia?
Orang Thailand telah menggunakan ganja sebagai obat-obatan tradisional selama berabad-abad, sebelum kemudian dilarang pada 1934.
Bagian dari budaya
Orang Thailand telah menggunakan ganja sebagai obat-obatan tradisional selama berabad-abad, sebelum kemudian dilarang pada 1934.
Petani disebut menggunakannya untuk melemaskan otot setelah seharian mencangkul di sawah. Ganja juga digunakan untuk mengurangi rasa sakit saat ibu melahirkan.
Bahkan, kata ‘bong’ (alat untuk menghisap ganja) adalah kata dari bahasa Thailand, yang berarti pipa air.
Sejumlah pengamat menyebut, Thailand cocok menjadi pusat legalisasi ganja, karena iklim tropis membuat ganja lebih gampang dan mudah diproduksi dibandingkan dengan di negara-negara belahan bumi selatan atau utara, misalnya Amerika Serikat.
Baca: Seperti Uruguay, Kanada Kini Ikut Melegalkan Penggunaan Ganja untuk Rekreasi
Lembaga audit keuangan internasional, Deloitte, bahkan menyebut pasar ganja untuk medis internasional akan bernilai US$50 miliar atau Rp725 triliun pada 2025.
Untuk perusahaan lokal Thailand, Thai Cannabis Corporation (TCC), dilegalkannya ganja untuk medis akan menjadi “awal dari kembalinya tradisi berusia ratusan tahun.”
“Jelas bahwa ganja adalah bagian dari obat-obatan tradisional Thailand, dan kita harus pastikan bahwa orang Thailand menjadi tuan rumah di negaranya sendiri,” kata Jim Plamondon, kepala pemasaran TCC. (*)
Sumber: VOA
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ganja_20180111_112251.jpg)