Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Laba Emiten Asuransi Masih Kurang Maksi

Sejumlah pemain asuransi kerugian yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek masih menghadapi periode

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kompas.com
Asuransi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sejumlah pemain asuransi kerugian yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek masih menghadapi periode menantang sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Beberapa emiten mampu mencatatkan kenaikan premi bruto dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun di saat bersamaan, keuntungan mereka justru tertekan.

Ambil contoh PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk, yang mencatat pertumbuhan premi sebesar 13,4% menjadi Rp 1,35 triliun. Namun laba bersih justru merosot dari Rp 103,5 miliar menjadi Rp 54,1 miliar. Kondisi serupa terjadi di PT Asuransi Dayin Mitra Tbk (ASDM). Hingga September laba tahun berjalan ASDM turun sekitar 25% menjadi
Rp 19,1 miliar, padahal premi bruto masih naik 4,4%.

Setali tiga uang, PT Lippo General Insurance Tbk. (LPGI) yang dalam sembilan bulan pertama tahun ini mengantongi premi bruto sebanyak Rp 1,03 triliun alias meningkat 4,7% secara year on year. Namun pada pos laba berjalan justru melorot sekitar 24,2% menjadi sekitar
Rp 37,6 miliar.

Presiden Direktur LPGI Agus Benjamin menyebutkan, perseroan ini masih menghadapi tantangan dari sisi kondisi investasi yang cukup volatil. Hal tersebut akhirnya ikut menyeret laba

Kinerja investasi LPGI memang menurun menjadi Rp 23,4 miliar per kuartal ketiga 2018. Padahal pada periode yang sama di tahun lalu, perseroan masih mengantongi hasil investasi Rp 61,1 miliar.
Dari sisi beban, perusahaan ini masih bisa menjaga. "Jadi bukan karena pertumbuhan klaim, tapi hasil investasi turun," kata dia, Rabu (7/11).

Masih tumbuh

Di sisi lain masih ada beberapa emiten yang berhasil mengerek laba. Misalnya PT Asuransi Ramayana Tbk yang mencatatkan kenaikan laba sebesar 13,1% menjadi Rp 57,6 miliar.

Laba PT Asuransi Jasa Tania Tbk. (ASJT) juga mengalami kenaikan dari Rp 13,5 miliar menjadi Rp 16,2 miliar walau premi bruto justru susut 3,7% menjadi Rp 195,7 miliar. Sebelumnya Direktur Utama ASJT Basran Damanik mengakui, kondisi bisnis asuransi umum di tahun ini masih cukup menantang termasuk dari sisi investasi. Karena itu ASJT makin selektif memilih risiko untuk membantu menggenjot keuntungan.

Kinerja Emiten Asuransi Umum (Rp miliar)

Nama Perusahaan premi bruto laba (rugi) berjalan

2018 2017 2018 2017

Malacca Trust Wuwungan Insurance 179,6 142,2 2,1 (7,6)

Asuransi Ramayana 901,3 741,5 57,6 50,9

Asuransi Jasa Tania 195,7 203,4 16,2 13,5

Asuransi Mitra Maparya 201,3 192,5 72,2 30,03

Lippo General Insurance 1.031,4 984,6 37,6 46,7

Asuransi Harta Aman Pratama 171,5 162,2 (33,5) (5,6)

Asuransi Multi Artha Guna 1.358,3 1.191,3 54,1 103,5

Asuransi Dayin Mitra 758,4 726,1 19,1 25,5

Asuransi Bintang 292,6 295,3 5,04 9,5

Asuransi Bina Dana Arta 745,6 845,4 114,8 130,4

Sumber: Laporan keuangan emiten kuartal III
 

Pemanis Impor Merangsek, BUDI Menunda Ekspansi

PT Budi Starch & Sweetener Tbk belum berencana menghidupkan kembali rencana ekspansi pabrik pemanis fruktosa berbahan baku singkong. Alasannya, kondisi pasar belum juga mendukung rencananya tersebut.

Manajemen Budi Starch bercerita, belakangan produk pemanis impor asal China berbahan baku jagung merangsek pasar dalam negeri. Harga jualnya lebih murah ketimbang pemanis lokal karena harga komoditas jagung sedang jatuh. Alhasil, harga pemanis Budi Starch yang berbahan baku singkong kalah kompetitif dibandingkan pemanis impor.

Buntutnya, penundaan rencana ekspansi pabrik pemanis fruktosa Budi Starch pun tanpa tenggat waktu pasti. "Yang jelas, kami sambil memantau perkembangan impor tersebut," kata Direktur PT Budi Starch & Sweetener Tbk, Mawarti Wongso, kepada KONTAN, Rabu (7/11).

Asal tahu, calon pabrik pemanis fruktosa baru tersebut sedianya akan dibangun dengan kapasitas produksi 50.000 ton per tahun. Pabrik tersebut bakal melengkapi empat pabrik pemanis lainnya yang sudah beroperasi dengan total kapasitas terpasang sebesar 290.000 ton pemanis per tahun.

Dalam catatan KONTAN, Budi Starch berencana membangun pabrik fruktosa di Krian, Jawa Timur. Perusahaan berkode saham BUDI di Bursa Efek Indonesia tersebut menyediakan dana investasi Rp 41 miliar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved