Laba Emiten Asuransi Masih Kurang Maksi

Sejumlah pemain asuransi kerugian yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek masih menghadapi periode

Laba Emiten Asuransi Masih Kurang Maksi
kompas.com
Asuransi 

PT Budi Starch & Sweetener Tbk belum berencana menghidupkan kembali rencana ekspansi pabrik pemanis fruktosa berbahan baku singkong. Alasannya, kondisi pasar belum juga mendukung rencananya tersebut.

Manajemen Budi Starch bercerita, belakangan produk pemanis impor asal China berbahan baku jagung merangsek pasar dalam negeri. Harga jualnya lebih murah ketimbang pemanis lokal karena harga komoditas jagung sedang jatuh. Alhasil, harga pemanis Budi Starch yang berbahan baku singkong kalah kompetitif dibandingkan pemanis impor.

Buntutnya, penundaan rencana ekspansi pabrik pemanis fruktosa Budi Starch pun tanpa tenggat waktu pasti. "Yang jelas, kami sambil memantau perkembangan impor tersebut," kata Direktur PT Budi Starch & Sweetener Tbk, Mawarti Wongso, kepada KONTAN, Rabu (7/11).

Asal tahu, calon pabrik pemanis fruktosa baru tersebut sedianya akan dibangun dengan kapasitas produksi 50.000 ton per tahun. Pabrik tersebut bakal melengkapi empat pabrik pemanis lainnya yang sudah beroperasi dengan total kapasitas terpasang sebesar 290.000 ton pemanis per tahun.

Dalam catatan KONTAN, Budi Starch berencana membangun pabrik fruktosa di Krian, Jawa Timur. Perusahaan berkode saham BUDI di Bursa Efek Indonesia tersebut menyediakan dana investasi Rp 41 miliar.

Lain pabrik pemanis, lain pula pabrik tepung. Budi Starch memastikan ekspansi pabrik tepung tidak akan bernasib sama dengan pabrik pemanis. Pertengahan tahun 2019 nanti, pabrik tepung tapioka baru di Lampung siap beroperasi.

Informasi saja, pabrik tepung tapioka di Lampung berkapasitas 60.000 ton per tahun. Kehadirannya akan menggenapi total kapasitas produksi terpasang tepung Budi Starch menjadi 885.000 ton per tahun. Pasalnya, saat ini mereka sudah menjalankan pabrik tepung berkapasitas 825.000 ton per tahun.

Catatan kapasitas produksi tepung yang lebih besar ketimbang pemanis itu juga menggambarkan kinerja Budi Starch. Selama Januari hingga September 2018, perusahaan tersebut membukukan pendapatan usaha dari bisnis tepung sebesar Rp 1,57 triliun.

Sementara pendapatan usaha dari pemanis sepertiganya, yakni Rp 509,14 miliar.
Selain menjual tepung dan pemanis, Budi Starch juga menjajakan asam sitrat dan produk kimia lain senilai Rp 15,48 miliar per 30 September 2018. Ada pula catatan penjualan karung plastik sebesar Rp 38,01 miliar.

Sementara secara keseluruhan, sepanjang sembilan bulan 2018 Budi Starch mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha 11,29% year on year (yoy) menjadi Rp 2,07 triliun.

Namun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih menyusut 16,39% yoy menjadi Rp 27,91 miliar.
Hingga tutup tahun 2018, Budi Starch mengejar kenaikan pendapatan usaha 5%-10%. Tahun 2019, mereka menetatapkan target pertumbuhan pendapatan serupa. (Agung Hidayat/Tendi Mahadi)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved