Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Inilah Pulau Keramat di Yunani, Tempat Lahirnya Dewa-Dewi

Apa yang dianggap keramat di Yunani memang tidak sama dengan apa yang kita anggap keramat.

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
Pulau Mikonos di Yunani 

Ternyata di pantai itu banyak hotel mewah dan menengah. Dari rumah makan yang letaknya tinggi kami bisa menonton para turis yang berpakaian sangat minim di pantai. Ada yang naik kapal, berenang, berendam, ada juga yang cuma berjemur.

Dalam rumah makan, selain mendengar bahasa Inggris kami juga sering mendengar bahasa Jerman. Rupanya pulau-pulau di L. Aegea itu banyak disukai turis Jerman, Swis dan Austria.

Di tepi jalan ke arah perhentian bus kami menjumpai beberapa penjual buah yang menjual apel, jeruk dan anggur dengan harga murah. Kami terutama menyukai anggurnya yang tanpa biji.

Perjalanan dengan bus dari pantai ini melewati penginapan kami ke pusat kota sangat menakjubkan. Jalannya berliku-liku, naik-turun tebing batu.

Dari atas bukit kelihatan rumah-rumah penduduk beratap putih, kincir angin dan juga gereja di atas bukit yang berlapis-lapis. Rumah itu bukan cuma atapnya yang putih, tapi semuanya, kecuali pintu dan jendela. Atap gereja atau kincir angin biasanya berwama biru dan coklat.

Ketika kami tiba di penginapan, kami menyaksikan -pria dan wanita petani pulang menunggang keledai di senja hari itu, sementara salak anjing terdengar sekali-sekali dari tanah pertanian.

Para turis muda pergi ke pusat kota untuk mengunjungi diskotek dari tempat hiburan lain, tetapi kami tinggal di rumah. Jalan raya sepi dan gelap.

Keesokan hannya, pagi-pagi kami mendapat suguhan sarapan dari istri pemilik penginapan. Sarapan sederhana itu berupa roti, mentega, selai, kopi dan teh.

Setelah itu sambil menunggu bus pertama yang berangkat ke pusat kota pada pukul 08.00, kami melihat-lihat dulu daerah sekitar penginapan. Kami bertemu keledai, kuda, anjing, rumah-rumah petani dan beberapa gereja.

Ternyata ada rumah-rumah penginapan lain yang lebih besar dan lebih nyaman daripada yang kami inapi. Ada yang tempat makannya diteduhi rambatan tanaman anggur. Petani ada yang merangkap sebagai nelayan juga.

Kemudian bus kami datang. Setiba di pusat kota, melalui jalan-jalan sempit yang mirip lorong, kami berjalan ke pelabuhan. Rencananya kami ingin pergi ke P. Delos.

Kami antre membeli karcis kapal bermotor. Harga karcisnya 850 drahma seorang.  Ternyata kapal itu dimuati dengan sarat. Penumpangnya bukan cuma turis asing, tetapi juga orang Yunani.

Tiga perempat jam kemudian kami tiba dan harus membayar karcis masuk ± Rp 2.500,00 seorang. Kami memutuskan untuk melihat-lihat pulau tanpa bantuan pemandu. Kalau ingin pemandu, bisa saja mendapatkannya di pintu gerbang. Ada yang fasih berbahasa Inggris, Jerman maupun Prancis.

Pantai Platis Yialos di Pulau Mikonos, Yunani.
 
Tempat kelahiran dewa

Pulau tidak berpenghuni itu ternyata dianggap keramat oleh orang Yunani, sebab konon di sinilah Dewa Apollo dan Dewi Artemis dilahirkan. Di sini banyak patung, ada yang masih utuh maupun yang sudah patah-patah.

Ada sederet patung singa dalam posisi berdiri, sehingga jalan di depannya disebut Jl. Singa. Seperti di Yunani daratan, di sini pun ada puing-puing bekas kuil.

Sumber: Grid.ID
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved