Minggu, 12 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Inilah Pulau Keramat di Yunani, Tempat Lahirnya Dewa-Dewi

Apa yang dianggap keramat di Yunani memang tidak sama dengan apa yang kita anggap keramat.

Editor: Aldi Ponge
Pulau Mikonos di Yunani 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Apa yang dianggap keramat di Yunani memang tidak sama dengan apa yang kita anggap keramat. Keramat atau tidak, namun tempatnya memang menarik seperti yang diceritakan Bunga Dewita, yang menyempatkan diri ke pulau tersebut.

Berikut ini tulisannya, Berkunjung ke Pulau Keramat di Yunani, seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Oktober 1987.

“Kalau ke Yunani, jangan lupa pergi ke P. Mikonos," pesan orang-orang. Jadi pada hari Senin, tanggal 8 September 1986, bersama kedua orang tua saya, saya menaiki kapal Nayas II di Pelabuhan Piraeus, dekat Athena.

Baca: Sakit Perut Usai Minum Susu? Coba Atasi dengan Latihan Ini

Pulau itu konon dijuluki Mutiara dari Kep. Cyclades. Setelah dua kali singgah di dua pulau, kami melihat di kejauhan sebuah pantai yang dipenuhi bangunan beratap putih mencolok, kincir angin dan juga kubah gereja berwarna biru, selain berpuluh-puluh kapal.

Begitu tiba, kami buru-buru mencari tempat penjualan karcis kapal. Walaupun kami baru akan pulang ke Athena dua hari kemudian, tetapi kami dipesan teman agar membeli karcis lebih dulu supaya jangan kehabisan.

Setelah mendapat tiga karcis, kami berjalan menuju gerbang pelabuhan. Ternyata jalannya ada dua jalur. Satu untuk para penumpang, satu lagi untuk para pengantar dan penjemput. Keduanya dipisahkan oleh pagar.

Dengan heran saya lihat bahwa di jalur pengantar/penjemput banyak sekali orang berkerumun. Mereka itu ada yang membawa-bawa gambar rumah, hotel dan bahkan kamar tidur.

"Hotel, sir?" "Hotel, madame? Very nice rooms," kata mereka. Seorang wanita yang umurnya mendekati enam puluh  tahunmendekati kami seraya menyodorkan foto beberapa kamar dari sebuah penginapan.

Baca: Presiden Jokowi Beri Teguran Dirut BPJS, Fahri Hamzah Beri Komentar

Seorang laki-laki yang agak lebih tua ikut-ikutan berbicara, membantu wanita itu meyakinkan kami akan kebagusan rumah tumpangan itu. Kami sepakat untuk melihat dulu rumah itu.

Wanita dan pria yang ternyata suami-istri pemilik rumah tersebut segera membawa kami ke rumahnya dengan mobil mereka.

Di muka rumah pedesaan itu terpampang papan bertuliskan: "Starvos, rooms to let". Sebetulnya perlengkapan kamar sangat sederhana untuk standar penginapan turis asing, tetapi kami sudah terlalu lelah untuk mencari hotel atau pesanggrahan lain di tempat asing itu.

Petang harinya, ketika kami duduk-duduk di teras, kami bertemu sesama penginap. Mereka itu tiga gadis Jerman yang kelihatannya masih muda sekali. Di sebelah teras itu ada tempat tidur pemilik rumah  yang dipakai pula sebagai ruang duduk dan dapur.

Kami bayangkan betapa kerasnya hidup suami-istri itu, yang mencari nafkah dengan pergi ke pelabuhan untuk merayu turis di bawah terik sinar matahari, supaya mau menginap di rumahnya yang sederhana di alam pedesaan.

Di depan penginapan kami ada dua perhentian bus. Satu untuk melayani bus yang menuju ke pusat kota dan satu lagi untuk bus dari pusat kota ke Platis Yialos, yaitu pantai tempat rekreasi. Karena di tempat itu ada hotel dan kumpulan restoran, kami pergi makan ke sana.

Petani masih naik keledai

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved