Saham Kelas Kecil dan Menengah Berpeluang
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan ini ditutup lompat hampir 1% ke level 5.756,49. Tapi, tetap saja, indeks saham
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan ini ditutup lompat hampir 1% ke level 5.756,49. Tapi, tetap saja, indeks saham mengakumulasi penurunan 9,43% sejak awal tahun.
Kondisi agak berbeda terjadi di saham dengan kapitalisasi pasar menengah ke bawah atau mid to small cap. IDX SMC Composite, indeks yang menampung saham mid cap dan small cap, hanya turun 2,87% sejak awal tahun. Padahal, sejumlah indeks konstituen lain di bursa saham turun dalam.
"Ini terjadi karena small cap tak terpapar efek sentimen global terlalu besar," ujar Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, Jumat (12/10).
Sudah menjadi rahasia umum saham small cap menjadi saham incaran level sekian saat investor asing masuk ke bursa lokal. Ini membuat kepemilikan asing di saham small cap kecil.
Sehingga, ketika ada isu global yang mendorong dana asing keluar, saham small cap tak banyak terpengaruh, karena sejak awal porsi kepemilikan asing sudah kecil.
Saham PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) yang kapitalisasi pasarnya Rp 352,32 miliar misalnya. Kemarin, mengutip RTI, aksi jual asing (net sell) di saham ini hanya Rp 450 juta di seluruh pasar.
Bandingkan dengan saham big cap seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 298,67 triliun. Net sell di saham ini kemarin mencapai Rp 844,6 miliar di seluruh pasar.
Penurunan saham small cap juga kecil karena faktor likuiditas dan volumenya yang kecil. "Ini juga karena tren di saham kapitalisasi kecil dan menengah cuma sesaat," imbuh William.
Dennies Christoper Jordan, analis Artha Sekuritas Indonesia menyebut, tak jarang pergerakan saham mid to small cap lebih berdasarkan rumor, bukan fundamental.
Sehingga, saham mid to small cap memang tidak memiliki korelasi yang selalu positif dengan pergerakan IHSG. "Bisa saja saat IHSG sedang bergerak negatif, saham small cap justru bergerak positif," jelas dia.
Window dressing
Tak bisa dipungkiri, risiko di saham small cap lebih besar. Terbatasnya likuiditas dan volume bisa membuat investor terjebak. Alih-alih cuan karena melihat sahamnya naik, yang ada justru nyangkut karena tak ada lawan yang mau beli saat tren kenaikannya terhenti.
Namun, saham small cap tetap memiliki kelebihan. Potensi cuan di saham dengan kapitalisasi besar tidak terlalu besar. Sebab, saham jenis ini ikut terkena aksi jual asing.
Potensi cuan bisa lebih besar dengan trading di saham small cap. "Saham ini sangat cocok digunakan untuk transaksi jangka pendek," tambah William.
Terlebih, aksi mempercantik portofolio atau window dressing bakal segera dimulai. Saat window dressing dimulai, bukan hanya big cap yang naik, tapi saham small cap juga terkerek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ihsg_20181011_014920.jpg)