PGAS Belum Membayar Saham Pertagas
Proses pembayaran atas pengalihan saham PT Pertamina Gas (Pertagas) ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) molor.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Proses pembayaran atas pengalihan saham PT Pertamina Gas (Pertagas) ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) molor. Awalnya, pembayaran tahap pertama dijadwalkan 29 September 2018. Namun, hingga berganti bulan, pembayaran tersebut belum juga terlaksana.
Sekretaris Perusahaan PGAS Rachmat Hutama bilang, masih ada sejumlah poin yang harus dipenuhi antara PGAS dan Pertamina selaku induk Pertagas. Dia juga menambahkan, masih ada tenggat waktu penyelesaian transaksi sebagaimana tertera dalam perjanjian jual beli bersyarat atau conditional sale and purchase agreement (CSPA) yang ditandatangani keduanya 29 Juni. "Ini tidak menyangkut persoalan yang substansial, hanya proses kelengkapan administrasi terhadap akuisisi Pertagas," ujarnya, Senin (1/10).
Sayang, Rachmat juga tak merinci poin administratif apa yang dimaksud dan kapan pembayaran akan dilakukan.
Yang pasti, ini bukan masalah pendanaan. Sebab, PGAS sudah mempersiapkan dana pembayaran tahap pertama yang berasal dari kas internal. PGAS bakal membayar Rp 16,6 triliun untuk 51% saham Pertagas. Pembayaran tahap pertama adalah 50% dari total nilai transaksi atau setara dengan Rp 8,3 triliun.
Per semester I-2018, PGAS memiliki kas setara kas US$ 1,37 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Namun, manajemen PGAS belum mengungkapkan, skema pendanaan untuk pembayaran termin kedua yang dilakukan semester I-2019.
Manajemen PGAS meyakini pengambilalihan Pertagas akan memberikan nilai tambah strategis dan dapat meningkatkan daya saing. Transaksi ini juga akan memberikan manfaat yang signifikan bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan, serta menegaskan komitmen perusahaan untuk berkontribusi pada pembangunan nasional.
Salah satunya manfaat yaitu memperkuat posisi PGAS sebagai badan usaha terdepan di bidang transmisi dan distribusi gas bumi. "Ini untuk menambah portofolio investasi perusahaan dan selanjutnya untuk masa mendatang," imbuh Rachmat. Senin (1/10), harga saham PGAS ditutup melemah 0,44% ke Rp 2.240.
Pangkas Utang, CLEO Memilih Private Placement Rp 274 Miliar
Kenaikan bunga pinjaman membuat emiten memilih pendanaan dari pasar saham. Salah satunya adalah PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) yang berencana menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement.
Perusahaan ini menyebut dana hasil private placement akan digunakan untuk membayar pinjaman bank serta memperkuat struktur permodalan. Sekretaris Perusahaan CLEO Lukas Setyo Wongso mengatakan, jumlah saham dilepas 1 miliar saham dengan nominal Rp 20 per saham. "Atau setara dengan 9,09% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh," ungkap Lukas dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/10).
Pemegang saham mayoritas CLEO, PT Global Sentral Abadi (GSA) akan menjadi pembeli saham baru ini. GSA adalah pemilik saham 51,64% saham CLEO. Setelah PMTHMETD, kepemilikan GSA akan naik menjadi 55,67%. Sedangkan kepemilikan PT Global Sukses Makmur Sentosa turun dari 27,91% menjadi 25,58%. Begitu juga saham publik terdilusi dari 20,45% menjadi 18,75%.
Aksi korporasi ini akan dimintakan persetujuan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 7 November. Harga rata-rata saham CLEO dalam periode selama 25 hari bursa sebelum tanggal 1 Oktober 2018 Rp 274 per saham. Sehingga potensi dana yang akan diraup CLEO sebesar Rp 274 miliar.
Dana hasil private placement sekitar Rp 225 miliar akan digunakan membayar pinjaman di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Sedangkan Rp 20,3 miliar untuk membiayai belanja modal alias capital expenditure (capex).
Rencana belanja modal tersebut akan digunakan membeli mesin dan peralatan, kendaraan, inventaris dan instalasi pabrik serta pengeluaran untuk bangunan. Dan sisanya membiayai modal kerja.
Analis Panin Sekuritas William Hartanto bilang, private placement ini bisa memperbaiki kinerja CLEO. "Private placement untuk mengurangi utang, sehingga CLEO bisa bersaing dengan pemain lain," ujar dia. Kemarin (1/10), harga saham CLEO ditutup turun 0,74% di Rp 268 per saham.
PT United Tractors Tbk (UNTR) kian serius menggarap bisnis perakitan dan produsen mesin melalui unit usahanya, PT United Tractors Pandu Engineering (UTE). Untuk menggenjot bisnis United Tractors Pandu Engineering, UNTR mengucurkan pinjaman US$ 30 juta.
Kurs transaksi akan ditentukan berdasarkan kesepakatan keduanya. Tapi jika menggunakan kurs Rp 14.920 per dollar AS, nilai pinjaman mencapai Rp 447,6 miliar. "Pinjaman itu akan digunakan UTE untuk modal kerja," kata Sara K Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR, Jumat (28/9).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sektor-migas_20171120_235123.jpg)