Asa INTP dari Proyek Infrastruktur
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk optimistis mampu menggenapi seluruh target pertumbuhan volume penjualan semen sebesar 6%
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk optimistis mampu menggenapi seluruh target pertumbuhan volume penjualan semen sebesar 6% pada tahun ini. Keyakinan mereka berdasarkan pada pengalaman. Biasanya, pekerjaan proyek infrastruktur bakal dikebut menjelang tutup tahun.
Selain proyek infrastruktur, Indocement mendamba penjualan semen dari sektor konstruksi. "Kami berharap akan terus tumbuh," ujar Antonius Marcos, Corporate Secretary PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk kepada KONTAN, Minggu (30/9).
Asal tahu, tahun lalu Indocement menjual 16,1 juta ton semen. Alhasil, target pertumbuhan volume penjualan 6% tahun ini setara dengan 17,07 juta ton semen.
Manajemen Indocement masih menghitung volume penjualan semen hingga akhir September 2018. Sementara pencapaian mereka selama Januari-Agustus lalu mencapai 11,5 juta ton semen atau tumbuh 9,84% ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar 10,47 juta ton semen.
Sementara itu, total volume penjualan semen nasional periode Januari-Agustus 2018 versi Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencapai 43 juta ton atau tumbuh 4,6% year on year (yoy). Dari catatan tersebut, Indocement mencuil 26,74% pangsa pasar semen nasional.
Menurut materi penjelasan manajemen Indocement kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) atas laporan keuangan semester pertama pada 30 Agustus 2018 lalu menyebutkan, ada empat strategi untuk mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan penjualan. Fokus utama perusahaan itu adalah pasar home market atau pasar yang terletak lebih dekat dengan lokasi pabrik dan terminal.
Indocement menerapkan strategi bernama dual brand strategy. Perusahaan berkode saham INTP di BEI tersebut juga berjanji meningkatkan kualitas produk, melakukan pengiriman semen tepat waktu dan menawarkan program pemasaran khusus.
Rencana lain, Indocement ingin meningkatkan pangsa pasar di luar Pulau Jawa. Caranya dengan mengoptimalkan operasional terminal-terminal di luar Jawa.
Konsentrasi domestik
Ketimbang pasar ekspor, sejauh ini Indocement memang lebih memprioritaskan pasar domestik. "Untuk potensi ekspor tetap ada, tetapi sejauh ini kami masih berkonsentrasi di pasar domestik," terang Antonius.
Sepanjang semester I 2018, total penjualan Indocement di dalam negeri mencapai Rp 6,44 triliun atau 99,38% terhadap total penjualan bersih. Barulah penjualan semen ekspor melengkapi 0,62% porsi sisanya. Penjualan ekspor itu pun mereka lakukan melalui pihak berelasi.
Secara keseluruhan, total penjualan bersih Indocement sebesar Rp 6,84 triliun turun 0,92% yoy. Penurunan top line itu belum seberapa dibandingkan dengan penurunan bottom line.
Laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih menyusut sekitar 2,5 kali lipat menjadi Rp 355,11 miliar.
Kembali melihat materi penjelasan manajemen Indocement kepada BEI, penyebab laba usaha dan laba bersih susut karena penjualan turun. Sementara beban pokok penjualan naik. Adapun penjualan turun karena kondisi kelebihan pasikan semen nasional dan persaingan harga jual antar pelaku usaha.
Belum lagi, jumlah hari efektif terpotong libur Lebaran. Adapun pengerek beban pokok penjualan adalah kenaikan harga batubara sebagai bahan bakar kurs rupiah.
Untuk memperbaiki kinerja laba dan margin semester II, Indocement antara lain berencana menaikkan harga jual secara bertahap. Mereka juga mengandalkan pabrik terbaru Plant 14 yang paling efisien dari sisi biaya produksi dan menekan biaya distribusi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/jalan-tol-gempol-pasuruan_20180503_055042.jpg)