Jumat, 17 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

ZINC Incar Penjualan Rp 1,3 T Tahun 2019

PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menargetkan penjualan Rp 1,3 triliun tahun depan. Target tersebut mengacu pada peningkatan Izin

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
Rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menargetkan penjualan Rp 1,3 triliun tahun depan. Target tersebut mengacu pada peningkatan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dari semula 390 hektare (ha) menjadi 1.519,25 ha area penambangan.

Kemungkinan, seluruh area penambangan bisa beroperasi penuh antara November hingga Desember 2018. Untuk sampai akhir tahun 2018 saja, volume produksi Kapuas Prima berpotensi terkerek 20%-35% ketimbang tahun lalu.

Namun area penambangan yang meluas menuntut biaya eksplorasi yang makin besar. Makanya, Kapuas Prima berencana mencari pendanaan hingga US$ 120 juta. Sebagian di antaranya akan mereka cari dari penerbitan surat utang alias obligasi.

Kalau tak meleset, jadwal penerbitan obligasi akan berlangsung pada akhir November atau awal Desember 2018 dengan target serapan hingga Rp 600 miliar. Rincian penggunaan dananya terdiri dari 40% untuk dana belanja modal, 40% untuk eksplorasi dan 20% untuk modal kerja.

Sejauh ini, Kapuas Prima masih mempertimbangkan kupon obligasi yang menarik. "Kami coba berbagai cara, kami merasa penerbitan obligasi ini menjadi alternatif yang paling cepat untuk saat ini," kata Hendra Wiliam, Direktur PT Kapuas Prima Coal Tbk, Rabu (26/9).

Dari Januari-September 2018, Kapuas Prima menjual 12.904,7 dmt timbal, 26.118,15 dmt seng dan 12,4 dmt perak. Karena produksi pertambangan pertambangan itu belum terolah, mereka menjual seluruhnya ke China.

"Smelter yang kami bangun akan menjadi yang pertama untuk timbal dan seng di Indonesia dan nanti juga akan kami jual domestik," tutur Hendra.
Smelter timbal Kapuas Prima sudah rampung. Mereka tinggal menunggu izin operasional dariKemenetrian Perindustrian.

Bank Indonesia
Bank Indonesia (kontan)

Pebisnis Masih Ragu, Kredit Perbankan Banyak Nganggur

Tampaknya banyak pebisnis yang masih ragu menjalankan agenda ekspansi mereka di tahun ini. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya kredit yang belum ditarik di perbankan atau biasa disebut undisbursed loan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Statistik Perbankan Indonesia per Juli 2018 menunjukkan peningkatan total kredit yang belum ditarik nasabah mencapai Rp 1.469,75 triliun. Jumlah tersebut naik 6,45% dari bulan Juli 2017 atau year on year (yoy).

Hingga Juli 2018, total penyaluran kredit perbankan sebesar Rp 5.029,62 triliun. Artinya kredit menganggur ini hampir mencapai 30%, tepatnya 29,22%i

Direktur Utama Bank Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan kondisi itu akibat sejumlah nasabah masih memantau perkembangan pasar.

"Macam-macam alasannya. Bisa karena penarikan bertahap sesuai kebutuhan operasional nasabah atau sesuai progres proyek," katanya ke KONTAN, Rabu (26/9).

Ia menjelaskan, beberapa nasabah memiliki plafon kredit di bank lain sebagai alternatif. Rata-rata untuk membandingkan besaran suku bunga antarbank. Undisbursed loan ini berlanjut di bulan Agustus.

Berdasarkan laporan keuangan Maybank per Agustus 2018 total fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik Rp 40,27 triliun. Jumlah tersebut naik 3,38% dibandingkan posisi tahun sebelumnya, Rp 38,95 triliun.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved