SNP Finance Palsukan Data dan Informasi: Bank Mandiri Siap Gugat
Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance bak bola salju yang menyakitkan. Bahkan, salah satu dari 14 bank korban
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Pasalnya, faktor eksternal yang mendorong penguatan dollar AS ke depan masih lebih kuat dan sulit diatasi dengan kenaikan suku bunga semata. Pertama, The Fed akan tetap konsisten dengan kebijakan pengetatan moneter sampai tahun depan.
"The Fed mengatasi kebijakan fiskal Presiden Trump yang cenderung longgar sehingga harus terus menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi," kata Ferry. Dengan demikian, nasib mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, masih di ambang pelemahan.
Kedua, perang dagang antara AS dan China masih terus berlanjut. Hal ini akan menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan terhadap perekonomian global.
Namun, potensi rupiah mengalami undershooting ke bawah Rp 15.000 juga terbuka dalam jangka pendek ini. Tapi, Ferry meyakini kedua kondisi tersebut tidak bertahan lama sebab dalam jangka panjang ia lebih melihat ekuilibrium rupiah yang baru berada pada level Rp 15.000 per dollar AS.
Faisyal memperkirakan level nilai tukar rupiah masih tidak akan jauh dari rentang Rp 14.900-Rp 15.000 sampai akhir tahun.
"Bahkan, terburuknya rupiah bisa sampai Rp 16.000, karena periode September-Desember banyak perusahaan membutuhkan dollar untuk pembayaran utang, maupun kebutuhan masyarakat menjelang libur akhir tahun," ujar dia.
Yuk, Menabung di Saham Perbankan
Sektor perbankan tengah menghadapi krisis likuiditas. Meski demikian, bukan berarti hal itu sepenuhnya menjadi sentimen negatif.
Aditya Perdana Putra, analis Semesta Indovest, menyebut, kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga bisa memberi sentimen positif bagi kinerja bank. "Perbankan bisa mendapatkan porsi margin yang lebih besar karena akumulasi bunga jadi naik," ujar dia, Rabu (26/9).
Sebab, pendapatan bunga masih menjadi penyumbang terbesar perolehan laba perbankan kategori Bank Umum Kategori Usaha (BUKU) IV. Jika diakumulasi, nilainya mencapai sebesar Rp 183,32 triliun, yang berasal dari penyaluran kredit mencapai
Rp 5.028,74 triliun.
Cuma memang, kebijakan tersebut bak koin dengan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi kenaikan bunga acuan bisa menjadi penyelamat, tapi di sisi lain juga membuat kucuran kredit kian seret.
Indikasi tersebut sudah mulai terlihat. Loan to deposit ratio (LDR) perbankan saat ini sudah menembus 92%. Padahal, menurut BI, batas atas LDR ada di level 92%. Sedang, batas bawah rasio yang menunjukkan perbandingan penyaluran kredit dengan perolehan dana pihak ketiga (DPK) ada di level 78%.
Risiko kredit macet
Semakin ketatnya likuiditas bakal membuat perbankan cenderung mengambil sikap lebih konservatif. Bank tak lagi menggenjot penyaluran kredit. "Jika likuiditas mengetat, perbankan akan menahan penyaluran kredit. Ini untuk menghindari risiko kredit macet yang lebih tinggi," jelas Reza Priyambada, analis senior CSA Research Institute.
Cuma memang, hal tersebut tak bisa dihindari. Maklum saja, kenaikan rasio non-performing loan (NPL) lebih berisiko ke kinerja emiten bank ketimbang perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit.
Sebab, jika level NPL tinggi, hal tersebut bakal menyulitkan bisnis perbankan. Bank akan sulit memutar dana antara deposan dan penerima kredit. Hal ini bisa menimbulkan dampak sistemik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rupiah_20180813_021010.jpg)