Breaking News
Rabu, 8 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

SNP Finance Palsukan Data dan Informasi: Bank Mandiri Siap Gugat

Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance bak bola salju yang menyakitkan. Bahkan, salah satu dari 14 bank korban

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance bak bola salju yang menyakitkan. Bahkan, salah satu dari 14 bank korban SNP Finance, Bank Mandiri berniat menggugat SNP Finance.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan, selama ini SNP Finance merupakan perusahaan pembiayaan yang menjadi debitur Bank Mandiri sejak tahun 2004 lalu. Selama belasan tahun jadi debitur Bank Mandiri, SNP Finance memiliki catatan positif dengan kualitas kredit lancar. Alhasil, banyak bank yang kemudian ikut memberikan pembiayaan kepada SNP Finane.

Kekisruhan berawal dari itikad tidak baik pengurus SNP menghindari kewajiban. Mereka langsung melakukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sukarela di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang saat ini masih berjalan. Hal ini usai kualitas kreditnya turun menjadi kolektabilitas 2 (kol 2) atau dalam perhatian khusus. "Modus ini sering dilakukan dengan memanfaatkan celah ketentuan hukum kepailtan," kata Rohan, Selasa (26/9).

Tindakan Bareskrim menangkap petinggi SNP, termasuk Direktur Utama Donni Satria, menurut Rohan didukung bukti-bukti yang sangat kuat. "Kami ikut mendukung pihak penyidik Kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini," ungkapnya.

SNP Finance sendiri sempat melunasi tagihan ke Mandiri sebesar Rp 200 miliar. Jadi total tagihan ke SNP Finance saat ini Rp 1,2 triliun. Selain Mandiri, ke-13 bank lain kabarnya juga akan melayangkan gugatan ke SNP Finance.

Bank Mandiri juga akan berkoordinasi dengan kreditur lain kembali melaporkan dugaan pemalsuan data dan informasi oleh SNP Finance. "Kami memastikan permasalahan ini tidak mengganggu kinerja Bank Mandiri karena telah membentuk pencadangan secara penuh sejak kualitas kredit SNP Finance tercatat tidak lancar," imbuh Rohan.

Ia menduga, terjadi rekayasa pembukuan laporan keuangan diduga oleh salah satu The Big Five KAP di Indonesia, atas laporan keuangan SNP Finance. Auditor SNP adalah KAP Satrio Bing Eny & Rekan yang merupakan mitra dari KAP itu. Menyusu, Bank Panin, Manditi siap mengikuti proses hukum yang ada.

Waspadai Potensi Rupiah Longsor Lagi

Hasil The Federal Open Market Committee FOMC Meeting bakal menjadi perhatian utama pelaku pasar hari ini. Selain itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia diperkirakan bakal merespons kebijakan moneter The Fed tersebut. Kondisi ini bakal berdampak signifikan pada pergerakan nilai tukar rupiah.

Pelaku pasar meyakini The Fed akan menaikkan suku bunga. BI diprediksi akan merespons dengan kebijakan serupa. Lalu, bagaimana arah kurs rupiah selanjutnya?

Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan, mata uang Garuda masih akan bergerak dengan rentang lebar. "Sebab, sepanjang September ini saja, rupiah sanggup menguat ke bawah Rp 14.800 namun juga beberapa kali menyentuh resistance di atas Rp 14.900 per dollar AS," jelas dia, Rabu (26/9).
Kendati begitu, Enrico menilai volatilitas rupiah sekarang sudah lebih baik dan sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menilai, BI memang perlu menaikkan suku bunga acuan, karena rupiah sudah semakin mendekati level psikologis Rp 15.000 per dollar AS. Jika pernyataan petinggi The Fed bernada hawkish, kenaikan suku bunga memang harus dilakukan agar nilai tukar tidak bergerak liar ke atas Rp 15.000. Hal ini dianggap bakal memberi sentimen negatif pada pasar keuangan dalam negeri.

Faktor eksternal

Enrico menambahkan, rupiah juga masih tertekan sentimen dari dalam negeri, yakni struktur current account deficit (CAD). Namun, ia cukup yakin berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang diambil pemerintah setidaknya mampu meredam volatilitas kurs.

Karena itu, Enrico memprediksi nilai tukar rupiah bakal berada di rentang Rp 14.890-Rp 15.000 per dollar AS akhir tahun nanti.
Ferry Latuhihin, Senior Chief Economist PPA Kapital, punya pendapat berbeda. Ia memprediksi, nilai tukar rupiah sulit menguat ke bawah level Rp 15.000 per dollar AS di akhir tahun nanti. "Bahkan, ada potensi rupiah bisa overshooting ke level yang lebih tinggi, Rp 15.500 per dollar AS," ujar dia.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved