Proyeksi IHSG: Sentimen Negatif Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound meski pasar diwarnai sentimen kenaikan suku bunga The Federal Reserve.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound meski pasar diwarnai sentimen kenaikan suku bunga The Federal Reserve.
Kamis (27/9), indeks ditutup naik 0,95% jadi 5.929,22. Namun, investor asing justru mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp 113,73 miliar.
Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, pasar menguat karena isu perang dagang memasuki masa jenuh. Fokus pasar kini pada rupiah yang terlihat masih stabil, meskipun suku bunga The Fed naik.
Bertoni Rio, analis Anugerah Sekuritas, menilai, pemodal asing melakukan aksi jual lebih karena profit taking setelah akumulasi beli dalam beberapa hari terakhir. Asing juga merespons kemungkinan pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia setelah AS mengerek bunga acuan. Meski begitu, pasar bisa rebound, sebab investor domestik masih optimistis dalam jangka pendek.
Namun, proyeksi Bertoni, Jumat (28/9), indeks rentan terkoreksi di rentang 5.880-5.963. Sebab, nilai tukar rupiah masih rawan melemah.
Sedangkan William memperkirakan indeks akan lanjut menguat karena ada potensi aktivitas window dressing. Indeks diprediksi bergulir di kisaran 5.830-5.950.
Prediksi Rupiah
Kembali Terjepit
Pasca keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR), rupiah belum mampu menguat. Kemarin, rupiah di pasar spot masih terkoreksi tipis 0,08% ke level Rp 14.923 per dollar Amerika Serikat (AS).
Analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto menjelaskan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga AS selanjutnya. Seperti diketahui, The Federal Reserve mengerek suku bunga menjadi 2,25%.
Sejalan, BI-7DRRR pun dinaikan sebesar 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (27/9) lalu.
"Nah, seiring kenaikan suku bunga, BI juga menerbitkan DNDF (domestic non deliverable forward) supaya efektif dalam meredam gejolak rupiah," kata dia.
Setali tiga uang, Chief Economist Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro juga mengatakan, transaksi DNDF membuat BI dapat lebih mudah mengontrol secara keseluruhan. Ia pun memprediksi, rupiah hari ini berada di kisaran Rp 14.870-Rp 14.930 per dollar AS. Sedangkan, Andri memproyeksikan, rupiah di kisaran Rp 14.850-14.950 per dollar AS.
INDEKS SAHAM
Nama Indeks %
KOMPAS100 1,205.70 1.17
IHSG 5,929.22 0.95
DOW JONES* 26,385.28 -0.40
SSEC (Shanghai) 2,791.78 -0.54
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ihsg_20180215_235223.jpg)