Jumat, 1 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Darmi Bersaudara Siap IPO November

Minat korporasi mencari pendanaan dari bursa efek rupanya masih besar. PT Darmi Bersaudara termasuk salah satu perusahaan

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Pergerakan IHSG 

Selain dalam negeri, lewat merek Arwana dan Uno, perusahaan dengan kode saham ARNA ini juga intensif meningkatkan penjualan di negara tetangga. "Kami dapat feedback positif dari beberapa negara, seperti Malaysia, Brunei, Filipina, Mauritius, Korea, Pakistan. Dalam waktu dekat coba penetrasi ke Thailand," sebut Edy.

Sepanjang semester I-2018, pendapatan Arwana Citramulia meningkat 14,42% menjadi Rp 932,52 miliar dibanding periode sama 2018. Selama paruh pertama tahun ini, beban pokok penjualan juga masih naik sebesar 14,89% jadi Rp 705,61 miliar, dari Rp 614,14 miliar di masa sama tahun lalu. Meski begitu, peningkatan tersebut tidak menyurutkan laba bersih Arwana Citramulia yang bertumbuh 12,79% menjadi Rp 70,12 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 62,16 miliar.

Ilustrasi asuransi
Ilustrasi asuransi (Thinkstock/Nelosa)

Kuartal III Premi Asuransi Properti Naik 5%

Pendapatan premi asuransi properti diperkirakan tumbuh positif. Namun, kenaikannya hanya 5% sampai akhir kuartal III-2018.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, pertumbuhan ini lebih baik dibanding tahun 2017. Sampai akhir Desember tahun lalu, premi asuransi properti susut 5% menjadi Rp 18,29 triliun.

"Pertumbuhan ekonomi diharapkanmendorong pertumbuhan perumahan maupun permintaan bangunan komersial," kata Dody ke KONTAN, Jumat (21/9). Akhirnya meningkatkan permintaan asuransi properti di kuartal III maupun sampai akhir 2018.
Wakil Ketua merangkap Ketua Bidang Statistik, Riset, Analisa dan Aktuaria AAUI Trinita Situmeang sepakat, jika bisnis asuransi properti masih akan meningkat. Sebab premi besar terutama dari segmen korporasi biasanya di pengujung 2018.

Apalagi, berbagai kebijakan pemerintah seperti loan to value (LTV) dapat membantu menggenjot permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) bisa meningkat yang pada akhirnya berefek positif pada asuransi properti. PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) mencatatkan kenaikan pendapatan premi asuransi properti atau kebakaran sampai Agustus 2018. Hal ini didukung strategi pengembangan bisnis yang apik.

Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, sampai delapan bulan ini meraih total premi Rp 1,1 triliun. Dari jumlah itu, lini bisnis properti menyumbang 38%. "Sampai Agustus 2018 asuransi properti kami tumbuh 6%," kata Christian.
Sampai akhir 2018, Aswata optimistis premi asuransi properti naik 10%-12%. Yang akan mendukung adalah penambahan mitra bisnis. Christian bilang akan banyak menggaet nasabah korporasi.

Realisasi premi asuransi properti Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) tumbuh 6,6% sampai Juli 2018. Direktur Operasi Ritel Jasindo Sahata L. Tobing mengatakan, premi asuransi properti mencapai Rp 483,5 miliar, naik dari periode sama tahun 2017 sebesar Rp 453,6 miliar. Jasindo optimistis, sampai akhir 2018, lini bisnis kebakaran tumbuh positif. Apalagi potensi premi lanjutan di pengujung 2018.

"Segmen korporasi untuk premi lanjutan akan masuk di kuartal IV," kata Sahata. Dia berharap pertumbuhan ekonomi membaik sehingga mendukung perolehan premi asuransi properti. Sahata mencontohkan premi cukup besar berasal dari PLN, Telkom dan BUMN lain.

Ayers Asia AM Siapkan Dua Reksadana Anyar

Sebagai pemain baru di industri reksadana Indonesia, PT Ayers Asia Asset Management cukup ekspansif. Perusahaan yang baru mulai beroperasi pada 24 November 2017 ini sudah berencana menerbitkan dua reksadana anyar di sisa tahun ini.
Pertama, reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Perusahaan ini berencana menawarkan RDPT pada bulan November mendatang. Kedua, reksadana saham syariah offshore yang rencananya akan diluncurkan di bulan Desember 2018.
Direktur Utama Ayers Asia Asset Management Dastin Mirjaya Mudijana menjelaskan, penerbitan untuk RDPT saat ini masih positif.

"Kami melihat antusiasme investor profesional dan juga ada peluang bagus di sektor properti, hingga nantinya produk RDPT kami bakal memiliki underlying proyek properti,' jelas dia, Jumat (21/9).
Sayangnya, dia masih belum bisa merinci isi protofolio dari aset RDPT tersebut. Maklum saja, Ayers masih menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dastin pun tak menganggap lesunya industri properti saat ini akan berpengaruh negatif pada RDPT tersebut. "Meski pasar keuangan sedang koreksi, kami malah menilai ini adalah saat yang tepat untuk mulai berinvestasi. Karena harga saham sudah undervalued, sedangkan harga properti pun atraktif dan secara historikal sektor tersebut selalu untung," tegas dia.
Senior Chief Economist PPA Capital Ferry Latuhihin juga sepakat bahwa prospek properti di Indonesia masih akan positif karena mendapat dukungan dari pemerintah.

Sementara untuk penerbitan reksadana syariah offshore, Idrus, Direktur Ayers Asia AM beralasan, saat ini permintaan dalam negeri cukup banyak lantaran instrumen tersebut masih kurang.

Nah, dengan adanya dua reksadana anyar, Ayers Asia AM akan memiliki lima produk. Sebelumnya, manajer investasi yang baru berdiri tahun lalu ini sudah punya reksadana pasar uang bertajuk Ayers Asia Asset Management Money Market Fund.
Selain itu, Ayers Asia AM juga memiliki reksadana pendapatan tetap yang berisi obligasi pemerintah bernama Reksadana Ayers Asia Asset Management Bond Fund. Paling baru, Ayers menerbitkan reksadana indeks Sri Kehati.

Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved