Kredit Ekspor Masih Lemah
Kredit ekspor perbankan masih belum bisa tumbuh kencang. Hal ini setidaknya tercermin dari realisasi kredit ekspor perbankan
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kredit ekspor perbankan masih belum bisa tumbuh kencang. Hal ini setidaknya tercermin dari realisasi kredit ekspor perbankan sesuai data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Juni 2018.
Berdasarkan data OJK Juni 2018, pertumbuhan kredit ekspor perbankan 3,57% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 121,4 triliun. Seiring dengan pertumbuhan kredit meski tipis ini, rasio kredit bermasalah juga turun menjadi 1,97% dari periode sama sebelumnya, 2,87%.
Darwin Wibowo, Direktur Wholesale Banking Bank Permata bilang kredit ekspor bank banyak ke sektor komoditas dan pendukungnya.
"Sampai akhir tahun, kondisi ekonomIitermasuk nilai tukar dan suku bunga akan mempengaruhi pertumbuhan kredit ekspor," kata Darwin kepada KONTAN, Senin (18/9). Frenky Tirtowijoto, Direktur Utama Bank Sinarmas mengatakan saat ini kredit ekspor bank tidak banyak. "Bank masih melihat sektor kredit ekspor yang bisa ditingkatkan," kata Frenky.
Pilihan Penempatan Dana
Beberapa bank besar mencatat, surat berharga pemerintah dan korporasi menjadi alternatif bank dalam melakukan penempatan dana. Hal ini untuk mengakali mencari dana non Dana Pihak Ketiga (DPK).
"Instrumen yan menjadi pilihan (bank) adalah yang diterbitkan pemerintah," kata Boedi Armanto, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK kepada KONTAN, Selasa (18/9).
Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP bilang, bank memilih instrumen surat berharga surat utang negara (SUN) jangka pendek. Ini karena tingkat suku bunga jauh lebih tinggu dibandingkan tahun lalu.
Hal ini seiring dengan kenaikan bunga acuan. Lea Kusumawijaya, Direktur Keuangan Bank Permata bilang penempatan dana disurat berharga masih fokus pada instrumen bebas risiko atau risiko rendah. "Seperti obligasi korporasi dengan investment grade, sesuai prinsip kehati-hatian bank," kata Lea. Penempatan surat berharga perbankan sampai Juni 2018, naik 7,3% year on year (yoy) menjadi Rp 583,8 triliun.
Bisnis Bank Kecil Mulai Terganggu
Alarm perbankan bermodal mini mulai berbunyi. Para bankir di kelompok bank umum kelompok usaha (BUKU) I dan II kudu berhati-hati.
Kinerja bank di dua kelompok ini mulai menunjukkan penurunan. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menujukkan sisi rasio keuangan bank kelompok BUKU I II mengalami perlambatan.
Lihat saja dari margin bunga bersih atau biasa disebut net interest margin (NIM) BUKU I yang menurun dari 5,89% pada bulan Juli 2017 menjadi 5,62% per Juli 2018. Serupa, BUKU II juga mencatatkan penurunan NIM dari 5,12% menjadi 4,92% secara tahunan di bulan Juli 2018 lalu.
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan menyebutkan, kinerja bank di BUKU I dan II tidak akan sekencang bank besar lain. "Bank dengan biaya dana yang rendah akan lebih mempunyai ruang untuk menawarkan bunga yang bersaing. Apalagi dalam tren kenaikan bunga seperti saat ini," tuturnya
Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij menyebutkan, pada akhir Semester I 2018 lalu baru menunjukkan pertumbuhan rata-rata kredit sebesar 8% sampai 9% secara yoy. Namun jumlah tersebut berada di bawah ekspektasi perseroan.
Perang bunga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ekspor_20171018_003226.jpg)