Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pasar Saham Masih Terbebani Rupiah

Meski menghadapi cukup banyak tantangan, emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa mencetak kinerja yang cukup solid

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Pergerakan IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Meski menghadapi cukup banyak tantangan, emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa mencetak kinerja yang cukup solid pada enam bulan pertama di tahun ini. BEI mencatat, pendapatan perusahaan di BEI meningkat 8,6% di semester satu lalu, dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjabarkan, pendapatan emiten di BEI pada semester I-2018 mencapai Rp 1.552 triliun. Sedang laba bersih emiten tumbuh 21% yoy menjadi Rp 178 triliun..
Aset emiten juga bertambah sebesar 3,3% menjadi Rp 10.189 triliun. Sedang ekuitas naik 1,8% menjadi Rp 2.766 triliun.

Tak hanya itu, menurut statistik pasar modal OJK per 24 Agustus 2018, rata-rata volume perdagangan harian tahun ini sudah mencapai 13,41 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 8,77 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu, yakni hanya 12,24 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,62 triliun.

Meski performa emiten bagus, namun kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih loyo. Sepanjang tahun ini hingga Senin (17/9), indeks sudah melorot 8,35% ke level 5.824,26.
Kebijakan impor

William Hartanto, Analis Panin Sekuritas, mengatakan, kenaikan laba yang signifikan menunjukkan fundamental emiten cukup baik. "Ini cerminan emiten masih kuat," kata dia, Senin (17/9).

Karena itu, William menilai, penurunan indeks tahun ini lebih karena faktor eksternal. "Harus diakui, ada sentimen dalam negeri yang masih jadi pemberat, seperti defisit neraca dagang dan pelemahan rupiah," tutur dia.

Head of Research Reliance Sekuritas Lanjar Nafi sependapat, rata-rata kinerja perusahaan yang tercatat di BEI sudah cukup baik. Namun, dampak depresiasi rupiah masih membebani emiten. "Investor asing khawatir terhadap kinerja perusahaan yang mayoritas merupakan importir bahan baku," kata Lanjar, Senin.

Menurut Lanjar, sejumlah faktor eksternal masih berpeluang menahan laju IHSG di sisa tahun ini. Salah satunya kekhawatiran terhadap efek perang dagang. Selama ini, perang dagang yang ditabuh Amerika Serikat menekan pasar saham global, termasuk Indonesia.

Selain itu, masih ada ancaman pelemahan nilai tukar mata uang negara emerging market, termasuk rupiah. Sebab, di sisa tahun ini, The Federal Reserves masih berencana menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali.
Itu sebabnya, Lanjar memprediksi level pesimis IHSG akhir tahun di 6.000. Sedangkan, target optimis pada level 6.200.

Sedangkan William masih yakin indeks bisa ditutup di level 6.500 pada tahun ini. "Tahun politik diprediksi berjalan damai dan kebijakan impor diharapkan mulai membawa hasil pada neraca dagang," proyeksi William.
Dia menyarankan investor akumulasi sejumlah saham. Yang menarik di antaranya ESSA, MARI, UNVR, MYOR dan ERAA. ?

Saham AKRA Merosot Meski Rapor Biru

Performa saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) loyo. Padahal rapor perusahaan positif di semester pertama tahun ini.
Saham emiten distributor bahan bakar ini menjadi salah satu yang terburuk di antara penghuni indeks LQ45. Sepanjang 2018, saham AKRA sudah merosot 40,88%.

Padahal, dari sisi kinerja keuangan, pendapatan perusahaan ini tumbuh 21,63% year on year (yoy) menjadi Rp 11,21 triliun per Juni 2018. Laba bersih juga naik 90% yoy menjadi Rp 1,12 triliun.
Analis Phintraco Sekuritas Valdi Kurniawan menjelaskan, sejatinya kinerja keuangan AKRA pada semester pertama lalu ditopang hasil penjualan aset atau divestasi anak perusahaan. Laba didorong penjualan aset Rp 671,30 miliar pada periode tersebut.

Di sisi lain, laba kotor turun 20,85% yoy menjadi Rp 831,05 miliar. Hal ini disebabkan peningkatan beban pokok yang mencapai 27,05% yoy, melampaui kenaikan pendapatan. "Tanpa divestasi, AKRA sebetulnya mengalami penurunan kinerja, terutama dari sisi operasional," papar Valdi, Senin (17/9).

Valdi melanjutkan, saham AKRA juga terseret rencana divestasi saham PT Freeport Indonesia. Selama ini, porsi penjualan AKRA ke Freeport mencapai 12% dari total penjualan semester I-2018. "Investor mengantisipasi apakah kontrak antara keduanya akan berlanjut setelah ada pergantian kepemilikan saham Freeport," tutur dia.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved