Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Menadah Saham saat Pasar Terkapar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok 3,76% ke level 5.683,50 kemarin (5/9). Pekan ini, indeks acuan bahkan sudah terpangkas 5,57%.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Pantuan pergerakan saham di BEI 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok 3,76% ke level 5.683,50 kemarin (5/9). Pekan ini, indeks acuan bahkan sudah terpangkas 5,57%. Hampir semua saham penghuni indeks LQ45 rontok.
Analis teknikal Kresna Sekuritas William Mammudi menilai, penurunan saat ini merupakan skenario wajar yang kerap terjadi selama Agustus hingga September. Berdasarkan siklus, periode ini menjadi puncak tekanan jual.
Prediksi dia, pekan ini, level support IHSG ada di 5.550. "Tapi, jika pola ini berulang, setelah September, IHSG akan rally kencang. Jadi, investor tidak perlu khawatir. Ini hanya koreksi biasa," kata William kepada KONTAN, Rabu (5/9).

Apalagi, fundamental ekonomi domestik sejatinya tidak buruk. Pertumbuhan ekonomi masih sesuai target dan inflasi masih stabil. Itu sebabnya, sejumlah analis melihat koreksi pasar bisa dimanfaatkan untuk menadah saham-saham yang murah.

Namun, kata William, harus tetap memperhatikan prospek saham. Dia menyarankan beli saham bluechip sektor perbankan, konsumer dan komoditas. "Investor cukup aman kembali berbelanja pada pertengahan November," kata dia, Rabu (5/9).

Saham komoditas

Muhammad Wafi, analis Bahana Sekuritas, mengatakan, secara fundamental emiten di BEI masih cukup baik. Saham perbankan masih bisa diakumulasi beli, apalagi kapitalisasi pasar emiten bank masih cukup baik.

Dia menyarankan beli saham BBRI dan BBCA. Target harga akhir tahun BBRI di Rp 4.530 dan BBCA Rp 27.600 per saham.
Selain itu, saham-saham komoditas juga menarik dibeli saat harga murah, seperti UNTR. "Harga komoditas masih positif dan berpotensi merangkak," papar Wafi. Target harga akhir tahun UNTR di Rp 41.100.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana menyebut, di tengah pasar koreksi, investor bisa bermain aman pada saham-saham LQ45 dan sektor komoditas."Pekan ini, investor bisa cicil beli SRIl, SSMS, LSIP, TBLA," saran dia. Meski harganya sudah turun signifikan, analis menilai bisnis emiten ini masih prospektif.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas, menyebut, investor bisa mulai beli saham yang cenderung defensif. Selain itu, saham sektor komoditas masih bagus, terutama LSIP.
"Karena agrikultur merupakan sektor terkuat kemarin. Juga ada sentimen kebijakan biodiesel (B20) yang berlaku mulai bulan ini. Jadi masih ada ruang penguatan saham LSIP," kata William. Dia menargetkan LSIP akhir tahun ini di level Rp 1.500.

Wafi memberikan pilihan lain. Saham ritel, seperti ERAA dan RALS, menarik. Sentimen tahun politik berpeluang mendongkrak daya beli, sehingga berpengaruh pada permintaan produk ritel.
INKP dan TKIM juga layak dikoleksi. Tahun ini, performa saham emiten kertas ini memang moncer. Target harga INKP diprediksi di Rp 24.150.

Danai Proyek, JSMR Akan Divestasi 4-5 Ruas Tol

PT Jasa Marga Tbk (JSMR) melakukan berbagai cara untuk meraih pendanaan demi kelangsungan sejumlah proyek. Salah satunya, konsolidasi anak usaha, dengan melepas seluruh kepemilikan saham minoritas atau mengurangi sebagian kepemilikan saham mayoritas.

Direktur Utama JSMR Desi Arryani mengatakan, saat ini, perusahaan ini berada dalam proses pembangunan yang masif, sehingga memerlukan investasi yang besar. Setidaknya, ada empat proyek ruas jalan tol yang ditargetkan rampung akhir tahun ini.

Tak heran, JSMR butuh banyak dana. Itu sebabnya, emiten ini baru saja melepas seluruh saham minoritas di PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB). "Divestasi Jalan Tol Ruas JORR W1 untuk menjaga modal atau struktur keuangan tetap sehat," kata Desi, Rabu (5/9).

Tahun lalu, JSMR juga telah mendivestasikan sebagian kepemilikan pada Tol Semarang-Solo. Direktur Keuangan JSMR Donny Arsal mengatakan, selanjutnya, perusahaan pengelola jalan tol ini masih akan melepas kepemilikan saham di sejumlah ruas tol, baik minoritas maupun mayoritas.

Kata Donny, pengumpulan dana bisa dilakukan melalui berbagai cara, termasuk menerbitkan reksadana penyertaan terbatas (RDPT) maupun divestasi kepemilikan saham di anak usaha. "Kami sudah tawarkan ke pihak tertentu kira-kira 4-5 ruas untuk menurunkan porsi mayoritas, maksimum 51%-55%," imbuh dia.

Tapi, lanjut Donny, JSMR tetap punya opsi membeli kembali saham anak usaha yang dijual setelah lima tahun. Tentu, saat itu revenue sudah optimal.
JSMR juga mencari pendanaan melalui bank serta sekuritisasi aset lama (aset recycle). Emiten pelat merah ini juga menerbitkan surat utang denominasi rupiah di pasar global.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved