Warga Jual Dolar AS untuk Beli Motor Baru
Buntutnya warga yang memanfaatkan momentum pelemahan rupiah terhadap dolar AS kali ini dengan melepas dolar AS mereka ke money changer.
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA- Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar AS melemah. Buntutnya warga yang memanfaatkan momentum pelemahan rupiah terhadap dolar AS kali ini dengan melepas dolar AS mereka ke money changer.
Satu di antara yang terjadi di Depok, warga berbondong-bondong datang ke Money Changer PT Thaly Sentral Valas di Jalan Margonda Raya. Wahyu(40) seorang warga Depok misalnya ia baru saja menukarkan mata uang sebanyak 1000 dolar AS.
"Saya barusan tukar 1.000 dolar. Kebetulan uangnya nanti buat nambah beli motor baru," kata Wahyu yang mengaku sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta.
Lain halnya dengan Amin (51), pria yang tinggal di Jalan Margonda ini mengaku murni melepas dolarnya karena memanfaatkan momentum pelemahan kurs rupiah. "Kalau saya tadi tukarnya 500 dolar. Dolar lagi naik, aji mumpunglah," kata dia.
Dini, pegawai money changer menyebutkan masyarakat mulai ramai menukarkan Dollar AS mereka sejak Rupiah terus melemah sejak beberapa hari lalu. "Dari minggu lalu lah kita sudah ramai, hari ini kita sepi. Kemarin-kemarin kita bisa sampai 50 nasabah per hari. Mungkin karena kemarin melonjaknya tinggi, jadi orang-orang kaget, langsung tukarin uang. Kalau sekarang sudah turun lagi," tutur Dini.
Dini juga menjelaskan, pada kemarin pihaknya membuka harga jual senilai Rp 14.950 per dolar AS. Sedangkan Rabu (5/9) kemarin, harga jual dolar AS dipatok oleh pihaknya senilai Rp 15.000.
Dini menduga, banyak warga Depok yang memanfaatkan meroketnya nilai dolar AS dengan melakukan penukaran dolar milik mereka. Jika dirupiahkan, Dini menghitung-hitung, nilai transaksi 40 ribu dolar AS tersebut mencapai sekitar Rp 595.760.000.
Bakal calon wakil presiden (cawapres), Sandiaga Uno menukarkan 1.000 dolar AS miliknya di salah satu tempat penukaran uang di bilangan Jakarta Pusat. Sandi mengakui, apa yang ia lakukan merupakan bentuk pencitraan.
"Saya melakukan secara simbolis (tukar dolar) kayaknya perlu pencitraan seperti ini, its okey kalau politisi bilangnya kan pencitraan, ya pencitraan," ujar Sandi.
Saat dimintai keterangan oleh petugas money changer, mantan Wagub DKI Jakarta itu mengaku menukarkan dolarnya untuk keperluan bepergian dirinya. Sandi pun kemudian mengimbau agar gerakan tukar dolar AS ke dalam rupiah yang dilakukannya bisa segera diikuti oleh pemimpin di negeri ini, baik presiden, pengusaha, pejabat DPR/MPR, milenial hingga kaum emak-emak.
"Saya berharap diikuti juga mulai dari pimpinan tertinggi republik ini mulai dari Pak Presiden sampai pengusaha-pengusaha, juga emak juga kepada milenial," ujar Sandiaga.
Sandi juga mengaku telah menukarkan hampir 40 persen holding miliknya yang semula disimpan dalam bentuk dolar. "Saya tukar hampir 40 persen dari holding saya, cek saja LHKPN saya, yang jelas total holding saya yang rupiah sekarang sudah 95 persen," katanya. "Ini enggak pernah lho saya pegang rupiah sebanyak ini," lanjutnya.
Mengikuti jejak Sandiaga, Wakil Ketua DPR Fadli Zon juga menukarkan uang Dolar AS ke Rupiah. Fadli mengatakan Dolar yang dimilikinya tidak banyak."Pasti juga ditukar, enggak masalah," kata Fadli.
Namun Fadli berpandangan penukaran uang Dolar tidak akan berpengaruh signifikan terhadap penguatan rupiah. Yang berpengaruh menurut Fadli adalah pembatasan belanja pemerintah untuk infrastruktur yang mayoritas impor.
"Kalau menurut saya kurang signifikan. Yang signifikan belanja pemerintah yang besar-besaran di infrastruktur impor dan segalanya," katanya.
Menurut Fadli dalam situasi sekarang ini, pemerintah seharusnya membatasi impor. Justru aneh ketika rupiah melemah, pemerintah justru mengimpor barang yang sebenarnya tidak perlu. Salah satu contohnya adalah beras.
"Berdasarkan informasi yang saya terima beras itu sebenarnya cukup dan saya tanya ke bulog cukup kok. Kenapa harus import jelas kan merugikan petani. Impor gula juga kan ini yang besar-besaran. Saya kira ini menguras devisa kita. Jadi aneh disaat sekarang dilakukan impor beras dan gula, itu bertentangan dengan kaidah yang ada dan merugikan petani dan merugikan swasembada pangan. Jadi itu lebih signifikan untuk mengurangi (pelemahan rupiah)," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/petugas-menunjukkan-dollar-as-di-gerai-money-changer-di-jakarta-pusat_20180516_112228.jpg)