Aktivis Ini Beber Kehidupan Kaum LGBT di Manado, Tomohon dan Bitung
salah satu aktivis membeber, kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) kerap mengalami kekerasan.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Aldi Ponge
"Keluarga dan lingkungan katakan itu salah, tapi saya tak kuasa menolak orientasi itu," kata dia.
Frustasi, ia coba lari ke dunia malam. Tak ada kedamaian di sana.
Suatu hari, ia masuk ke gereja dan tersentuh dengan khotbah pendeta.
"Akhirnya saya memutuskan menjadi pelayan Tuhan, saya ingin betul - betul melayani," ujar dia kata dia.
Namun kenyataan yang ia peroleh jauh dari harapan. Dia malah makin ditekan.
"Mereka katakan saya tidak layak layani Tuhan, harus bertobat, " katanya.
Ujung - ujungnya, Boy dikeluarkan dari pelayanan. Ia merasa hidupnya hancur. "Saya berada di titik nadir, " kata dia.
Baca: Den Harin, Pasukan Khusus Paling Misterius, Wolter Mongisidi Personelnya Paling Ditakuti Belanda
Boy kala itu menggugat hidupnya. Tuhan pun ia gugat. "Saya sampai katakan Tuhan engkau tidak adil, " kata dia.
Beberapa kali Boy nyaris mengakhiri hidupnya. Tiga tahun lamanya Boy terbenam dalam rasa frustasi.
"Kemudian saya membaca banyak literatur, disitu akhirnya saya tahu, gay itu bukan dosa, dari situlah saya bangkit, menata hidup," kata dia.
Selanjutnya, Boy beroleh berbagai saluran hidup. Ia pun makin mantap dengan orientasi seksualnya.
"Kuncinya adalah menerima orientasi seksual dalam diri," kata dia.
Meski demikian, sejatinya ia masih bergumul.
"Secara jujur saya, masih ada bagian diri saya yang belum menerima, tapi secara umum saya lebih plong," kata dia.
Baca: Kisah Kopassus yang Tubuhnya Dihujani Peluru tapi Mampu Renggut 83 Nyawa Pemberontak
Terhadap agama ia kini punya pandangan sendiri.