Investor Kembali Serbu SUN
Lelang surat utang negara (SUN) yang berlangsung Selasa (28/8) kemarin mencetak sukses besar. Berdasarkan data Direktorat Jenderal
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Lelang surat utang negara (SUN) yang berlangsung Selasa (28/8) kemarin mencetak sukses besar. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, penawaran yang masuk dalam penawaran lelang kali ini mencapai Rp 59,28 triliun.
Ini merupakan nominal penawaran terbesar kedua tahun ini. Sebelumnya, pada lelang 16 Januari 2018, penawaran investor mencapai Rp 72,47 triliun.
Walau mendapat penawaran jumbo, ternyata pemerintah tetap menyerap sesuai target maksimal, yakni sebesar Rp 20 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target indikatif yang dipatok pemerintah, yakni Rp 10 triliun.
Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan, besarnya minat investor asing dalam lelang kali ini terjadi lantaran pergerakan nilai tukar rupiah sudah mulai stabil.
Apalagi di awal pekan ini, mata uang Garuda sempat menguat, walau akhirnya kemarin melemah tipis ke level Rp 14.629 per dollar Amerika Serikat (AS).
Stabilnya nilai tukar rupiah membuat tekanan di pasar obligasi berkurang. Dengan begitu, para investor jadi lebih percaya diri mengikuti lelang SUN. Analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri menyebut, investor asing juga mulai kembali masuk.
Ini antara lain terlihat dari net foreign buy di pasar saham, yang mencapai Rp 800 miliar.
"Inflow yang terjadi menunjukkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi saat ini," kata Reny, Selasa (28/8).
Made menambahkan, kebutuhan dana pemerintah dari penerbitan surat berharga negara (SBN) saat ini masih tergolong besar.
Alhasil, investor memanfaatkannya untuk melakukan pembelian SUN dengan nominal yang besar. "Tak heran jumlah penawaran yang masuk bisa lebih dari
Rp 50 triliun," ujar dia.
Yield tinggi
Kendati mendapatkan penawaran berlimpah, para investor masih cenderung meminta yield yang tergolong tinggi bila dibandingkan dengan yield di pasar sekunder. Misalnya, pemerintah mematok yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN acuan seri FR0064 sebesar 7,95%. Padahal, kemarin. yield SUN seri tersebut bercokol di level 7,88%.
Lantaran yield tinggi, pemerintah tidak menyerap dana besar dari seri-seri bertenor pendek, seperti SPN03181129 dan SPN12190829. Pemerintah hanya memenangkan penawaran senilai Rp 3 triliun untuk seri SPN03181129 dan Rp 1,1 triliun untuk seri SPN12190829.
Angka tersebut tidak lebih besar dari dana yang diserap pemerintah pada seri FR0075. Total dana yang dimenangkan mencapai Rp 4,5 triliun. Padahal, seri ini hanya memperoleh penawaran masuk sebesar Rp 5,14 triliun.
Made menilai, minimnya jumlah dana yang diserap pemerintah lewat seri-seri bertenor pendek atau kurang dari satu tahun mestinya patut disyukuri. Setidaknya, kewajiban pemerintah untuk melakukan refinancing tidak akan membengkak.
Terlepas dari hasil lelang hari ini, pemerintah sejatinya masih perlu mengejar dana sebesar Rp 69 triliun lagi untuk memenuhi target penerbitan SBN melalui lelang di kuartal tiga, yang mencapai Rp 181 triliun.
Namun, upaya pemenuhan target tersebut diyakini tidak akan mudah. Sebab, bulan September mendatang hanya akan berlangsung empat kali lelang SBN. Belum lagi, pemerintah mesti mencermati kondisi pasar obligasi yang bisa mempengaruhi minat investor untuk mengikuti lelang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/saham_20180827_000338.jpg)