Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Premi Asuransi Kesehatan Naik 9,5 Persen

Kehadiran BPJS Kesehatan tak menyurutkan bisnis asuransi umum. Tren pertumbuhan premi dari bisnis asuransi kesehatan

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUN MANADO/FERDINAND RANTI
Pelayanan BPJS Kesehatan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kehadiran BPJS Kesehatan tak menyurutkan bisnis asuransi umum. Tren pertumbuhan premi dari bisnis asuransi kesehatan pelaku asuransi umum masih bisa tumbuh positif sampai pertengahan tahun ini.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, hingga Juni 2018, lini bisnis asuransi kesehatan mengumpulkan premi sekitar Rp 2,6 triliun.

Jumlah ini meningkat 9,5% jika dibandingkan dengan periode sama tahun kemarin sebesar Rp 2,37 triliun. Kinerja positif ini lebih tinggi dari capaian kuartal I 2018 lalu yang tumbuh 8,4%.

Di periode yang sama, klaim bisnis ini mencapai Rp 1,78 triliun, naik 5,1% dibandingkan per Juni 2017 sebesar Rp 1,69 triliun. Dus, rasio klaim asuransi kesehatan juga menyusut dari semula di posisi 71,4% menjadi 68,6%.

Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, terus bertumbuhnya produk asuransi kesehatan para pelaku asuransi kerugian berkat strategi pengembangan produk yang berbeda.

Ilustrasi asuransi
Ilustrasi asuransi (Thinkstock/Nelosa)

Meski ada BPJS Kesehatan, masyarakat segmen ritel maupun korporasi masih banyak yang membutuhkan manfaat tambahan asuranbsi.

Terutama, sambung Dody, masyarakat yang memiliki dana berlebih dan ingin mendapatkan perlindungan di atas minimal yang tidak ada dalam kaver BPJS Kesehatan.

Sehingga, produk dengan layanan seperti demikian masih dibutuhkan oleh masyarakat. "Maka itu pelaku asuransi membuat produk asuransi kesehatan dengan menyesuaikan kebutuhan yang ada. Selain itu juga memberikan layanan lebih yang tidak ada di BPJS Kesehatan," kata Dody, Senin (27/8).

Hingga akhir tahun ini, Dody meramal tren pertumbuhan premi di pertengahan tahun bisa konsisten berlanjut hingga akhir 2018 mendatang.

Perusahaan asuransi memang kudu memutar otak menghadapi kehadiran BPJS Kesehatan. Direktur Asuransi Sinar Mas Dumasi M.M Samosi Asuransi Sinar Mas menyatakan bakal lebih banyak menyasar segmen korporasi yang menghasilkan premi dalam jumlah besar.

Asuransi Sinar Mas masih berupaya mengejar target premi Rp 800 miliar dari produk asuransi kesehatan. Hingga semester I 2018 ini, Asuransi Sinar Mas telah mengumpulkan premi Rp 3,77 triliun dan premi asuransi kesehatan mencapai Rp 409,7 miliar.

Ilustrasi: seorang operator alat berat sedang merapikan tumpukan sawit untuk dimasukkan ke mesih pengolahan CPO.
Ilustrasi: seorang operator alat berat sedang merapikan tumpukan sawit untuk dimasukkan ke mesih pengolahan CPO. (KOMPAS/RENY SRI AYU)

RI dan Malaysia Topang Harga CPO

Pemerintah Indonesia dan Malaysia tengah menjajaki kerjasama meningkatkan penyerapan minyak kelapa sawit lewat program pengembangan biodiesel domestik.

Dengan kerjasama itu diharapkan laju penurunan harga minyak sawit di pasar internasional yang terjadi saat ini, bisa berhenti.

Wakil Menteri Industri Primer Malaysia Shamsul Iskandar Md Akin mengatakan, saat ini Pemerintah Malaysia berkolaborasi dengan Pemerintah Indonesia mendongkrak harga minyak sawit global.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved