Tradisi Warga Kampung Loyang Berebut Darah Sapi Untuk Dibasuh di Kaki
Bagi warga Kampung Loyang, Kelurahan Singkil I, Lingkungan II, Kecamatan Singkil, berebut darah sapi saat Iduladha.
Penulis: Indry Panigoro | Editor: Siti Nurjanah
Laporan Wartawan Tribun Manado, Indry Panigoro
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Bagi warga Kampung Loyang, Kelurahan Singkil I, Lingkungan II, Kecamatan Singkil, berebut darah sapi bukanlah hal yang asing lagi dilakukan saat Iduladha.
Terbukti saat perayaan Iduladha 1439 H, Rabu (22/08/2018). Puluhan warga mulai dari anak-anak hingga orang dewasa saling berebut darah sapi yang baru di kurbankan untuk dibasuh di kaki warga.
Vernando Napu, warga setempat mengatakan jika ini sudah rutin dilakukan di kampung nya.
"Oh ini biasa. Kami di sini sudah biasa lakukan ini. Ini sudah jadi tradisi kami, karena kami percaya dengan darah sapi segar hasil kurban, ketika di basuh di kaki, ataupun di tangan, bekas luka di kaki itu hilang," kata Nando sapaan akrabnya kepada Tribunmanado.co.id.
Diapun mengakui jika selama dia melakukan tradisi turun-temurun ini, ada banyak perubahan yang dia rasakan dalam dirinya.
"Saya sudah lakukan ini dari 2006. Pokoknya waktu saya masih anak-anak. Dan saat ini juga masih saya lakukan. Saya pun merasakan setiap kali melakukan ini, saya merasa jauh lebih muda lagi, dan tubuh terasa lebih fresh," akunya.
Rizal Bumulo warga yang sama berharap tradisi cuci kaki ini terus berlangsung dan mendapatkan dukungan dari orangtua.
"Semoga terus seperti ini. Cuman kalau boleh harus ada dukungan dari orangtua juga. Kalau boleh jangan larang atau marah-marah ke kami saat kita mencuci kaki dengan darah sapi," katanya.