Bank Daerah Berpacu Lewat Efisiensi
Kinerja bank pembangunan daerah (BPD) sepanjang separuh pertama 2018 cukup menggembirakan. Tengok saja data Otoritas
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
"Sementara deposito selama ini merupakan portofolio terbesar untuk mengimbangi karakteristik bisnis yang jangka pendek," kata Dody. Penempatan investasi deposito dimaksudkan untuk menjaga likuiditas.
Karena itu penempatan dana di deposito ke depan akan meningkat. PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) misalnya, berencana menambah investasi di deposito pada separuh kedua ini. Menurut Direktur Utama Aswata Christian Wanandi, imbal hasil deposito menarik setelah kenaikan suku bunga bank sentral.
Menurut Christian, portofolio investasi perusahaan ini diisi deposito 40%. Kemudian obligasi 40% dan sisanya dari reksadana serta saham. Semester II, porsi deposito akan menjadi 50%.
"Mungkin bisa bertambah antara 10%-15% lagi sambil melihat tren bunga," kata dia, Rabu (15/8).
Di sisi lain, volatilitas pasar saham membuat Aswata harus mencari lahan investasi lebih menjanjikan. Pasalnya, kinerja di instrumen saham dan reksadana justru menekan hasil investasi Aswata.
Meski kenaikan bunga deposito cukup menarik namun, Dody menilai, pelaku usaha tak akan jor-joran mengerek investasi di deposito. Sebab pemain asuransi umum harus memenuhi porsi investasi di surat berharga negara (SBN) sebesar 20% dari total. Sampai Juni 2018, porsinya baru ada di angka 13,3%. "Saya rasa prioritas asuransi umum masih memenuhi SBN," kata dia.
Asuransi Jiwa Asing Incar Pasar Indonesia
China Life Insurance (Overseas) Company Limited resmi beroperasi di Indonesia. Kehadiran China Life ini meramaikan pasar asuransi jiwa dalam negeri. Indonesia menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang masuk jaringan bisnis perusahaan ini.
Beberapa negara yang lebih dulu dimasuki oleh China Life adalah Hong Kong, Makau, dan Singapura. China Life merupakan perusahaan asuransi yang dimiliki sepenuhnya oleh China Life Insurance Group Company, perusahaan keuangan dan asuransi asal China. Indonesia dipilih karena posisi strategis di Asean.
Vice Chairman dan Presiden China Life Insurance Group Company Yuan Changqing berharap, China Life dapat selektif mengoptimalkan potensi dan peluang untuk bertumbuh dan integrasi dengan komunitas bisnis di Indonesia.
Berkat dukungan regulator, China Life dapat beroperasi sesuai ketentuan berlaku dan menjalankan bisnis secara transparan. "Selain itu, China Life ingin berkontribusi bagi pembangunan ekonomi Indonesia," harap Yuan. China Life berharap, bisa berinvestasi lebih lanjut di Indonesia melalui kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal.
China Life mendapat izin beroperasi dari regulator pada Juni 2018. Direktur Pengawas Asuransi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah mengatakan, dengan potensi China Life yang terbilang besar, OJK berharap China Life bisa ikut berkolaborasi dengan perusahaan asuransi lokal. Caranya bisa lewat bisnis maupun mengenai pemanfaatan digital.
"Premi mereka setahun US$ 120 miliar. Ini angka yang besar, sehingga kami harapkan hal ini bisa ditularkan dengan mitra lokal di Indonesia," kata dia.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan, masuknya pemain baru memberi dampak baik bagi industri. Semakin banyak pemain maka penetrasi asuransi jiwa akan meningkat. Saat ini boleh dibilang masih rendah. Plus, produk yang ditawarkan akan semakin beragam.
Dampak ke industri
Pasar asuransi jiwa di Indonesia yang menarik menjadi daya tarik bagi pemain asing. OJK menyebut, industri asuransi jiwa dalam negeri akan kembali kedatangan pemain baru lagi yang berasal dari asing. OJK menyebut perusahaan asing tersebut dari Asia.
Nasrullah mengatakan, perusahaan asing yang masih dalam proses tersebut kini sedang mengajukan perizinan operasi. Namun, OJK masih enggan menyebut secara spesifik pemain baru asing tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sulutgo_20180606_173453.jpg)