Review Bursa Saham Arah Bursa Mencari Pola: Rupiah Loyo
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir pekan berhasil menguat 0,19% ke level 6.077,17. Selama sepekan, IHSG cenderung menghijau
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir pekan berhasil menguat 0,19% ke level 6.077,17. Selama sepekan, IHSG cenderung menghijau dengan kenaikan 1,16%. Meski demikian, di pekan ini, investor asing mencetak net sell Rp 733,26 miliar.
William Hartanto, analis Panin Sekuitas menilai, penguatan IHSG lebih banyak didorong oleh positifnya rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melebihi ekspektasi.
"Namun, tiga hari terakhir, IHSG sempat menurun karena menunggu pengumuman kandidat Pilpres," ujarnya, Jumat (10/8).
William mengatakan, IHSG masih berpeluang menguat pada pekan depan.
Namun, selama belum menembus level resistance 6.120, IHSG masih akan cenderung sideways. Ia pun merekomendasikan untuk menyimak saham-saham perbankan.
Parningotan Julio, Kepala Riset Pacific Capital Investment mengatakan, pekan depan IHSG cenderung flat lantaran sentimen dari laporan keuangan sudah mereda. "Secara historikal, bulan ini juga bukan bulan yang baik buat IHSG," kata dia.
William juga mengatakan, masih belum ada sentimen baru yang akan mewarnai pergerakan indeks pekan depan. Pasar hanya menanti data pertumbuhan kredit.
Secara teknikal, belum ada indikasi koreksi untuk IHSG. Sehingga, William meramal IHSG berpotensi menguat dengan rentang support 6.050 dan resistance 6.120.
Sementara itu, Parningotan memprediksi IHSG bakal bergerak fluktuatif mendekati arah support, dengan rentang 5.960-6.150.
Analis: Saham Emiten Kertas Masih Layak
Industri bubur kayu (pulp) dan kertas (paper) di Indonesia diperkirakan masih memiliki potensi untuk berkembang. Kebutuhan kertas di masa mendatang masih tetap tinggi, seiring dengan langkah pengurangan penggunaan plastik sekali buang. Ini membuat harga kertas tak terbendung.
Jadi, tak heran kalau harga saham emiten kertas di bursa menjulang tinggi. Menurut Trimegah Sekuritas, saham kertas masih oke lantaran harga pulp masih bisa naik lagi, meski sekarang sudah tinggi. Asumsinya, harga pulp akhir tahun ini bisa mencapai US$ 775 per ton dan naik jadi US$ 800 per ton di 2019.
Analis Trimegah Sekuritas, Rovandi memprediksi saham emiten kertas masih berpeluang. "TKIM masih rekomendasi buy dengan target harga akhir tahun Rp 27.500. Sedangkan harga saham INKP sampai akhir tahun ada di level Rp 23.100," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (10/8).
Menurut Bertoni Rio, Senior Analyst Research Division Anugerah Sekuritas Indonesia, saham emiten kertas telah melewati masa-masa suramnya dan kini bersiap untuk bangkit. Hal ini ditunjukkan dengan kinerja penjualan emiten kertas yang meningkat serta ditopang juga dengan komitmen dari debitur yang telah membayar piutangnya.
"Kepercayaan terhadap kreditor membaik setelah adanya pendanaan baru. Selain itu perusahaan kertas tergolong efisien sehingga beban operasional pun tertekan. Ditambah lagi adanya apresiasi dollar AS juga memberikan keuntungan nilai tukar bagi perusahaan-perusahaan kertas. Dengan sentimen tersebut prospek emiten kertas diperkirakan masih berkembang," ucap Bertoni.
Bertoni menambahkan dengan mempertahankan kinerja yang baik dengan meningkat, hingga akhir tahun harga saham emiten kertas masih ada peluang untuk naik. Pasalnya sejak awal tahun hingga kemarin harga saham INKP telah melonjak 269%, sedangkan TKIM telah mengalami kenaikan cukup tinggi capai 428%.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/saham_20180211_232304.jpg)