EBA-SP Ritel Pertama Tawarkan Bunga 8,6%
Pilihan alternatif investasi bagi investor ritel kembali bertambah. Kemarin (2/8), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF)
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Jangka Waktu
5 tahun
rata-rata 3-5 tahun
fleksibel sesuai pool aset
Underlying Asset
tidak ada
tidak ada
ada
Profit Risiko
terpusat
terpusat
tersebar
Sumber : BNI Sekuritas
Musim Konsolidasi Bank Milik Asing
Musim konsolidasi bank milik pemodal asing segera tiba. Usai mencaplok dan mengakuisisi sejumlah bank di Tanah Air, kini pemodal asing merancang untuk mengonsolidasikan aset mereka lewat merger. Maklum, sejumlah investor asing memiliki lebih dari satu bank.
Konsolidasi menjadi wajib lantaran mereka harus mematuhi aturan kepemilikan tunggal atau single presence policy (SPP). Menurut aturan itu, kepemilikan saham tunggal dapat dengan skema merger dan membentuk holding.
Jurubicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sekar Putih Djarot mengatakan, konsolidasi seperti merger dan akuisisi akan memperkuat modal perbankan. "Bank juga akan lebih leluasa dalam memacu kinerja bisnis," kata dia kepada KONTAN, Kamis (2/8).
Yang paling hangat adalah merger Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (Harian KONTAN, 2 Agustus 2018). Jika tidak ada aral melintang, merger kedua bank milik Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) ini akan terjadi 1 Januari 2019. Manajemen bank ini berharap bisa mengantongi restu pada 1 Oktober 2018.
Investor asal Jepang ini telah menyampaikan komitmen jangka panjang mengembangkan ekonomi di Indonesia. Rencana penggabungan BTPN dan Sumitomo Mitsui akan meningkatkan bank ini menjadi bank BUKU IV dengan modal inti Rp 30 triliun.
Kedua bank juga saling mengimbangi bisnis. Saat ini, BTPN fokus pada pembiayaan kredit mikro dan pensiunan. Sementara, Sumitomo Mitsui di bisnis korporasi.
Bank lain yang akan menjalankan konsolidasi adalah Bank Danamon. Bank ini akan merger dengan Bank Nusantara Parahyangan (BNP). OJK memberikan waktu satu tahun untuk memproses merger kedua bank milik Mitsubishi UFJ Financial Group Inc (MUFG) itu.
Merger ini merupakan syarat OJK. Pasalnya, MUFG berencana meningkatkan kepemilikan saham dari 40% menjadi 73,8% di Bank Danamon. Saat ini, MUFG mempunyai 19,9% saham Danamon.
Selain investor Jepang, pemodal dari Korea Selatan juga gencar melirik perbankan Indonesia. APRO Finansial Holding memiliki saham di Bank Dinar dan Bank Oke Indonesia. Menurut Hendra Lie, Direktur Utama Bank Dinar, pihaknya masih menunggu restu merger dari OJK. Bank Dinar berharap bisa memperoleh izin merger tahun ini.
Kookmin Bank juga masuk ke Bank Bukopin sebesar 22% melalui rights issue. Masuknya, investor Korea ini karena Bukopin sama-sama bergerak di sektor pembiayaan kredit usaha kecil menengah. (Galvan Yudistira/Grace Olivia Sihombing)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pinjaman-kredit222_20150808_163632.jpg)