Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Prospek Sektor Batubara Masih Oke

Prospek sektor batubara tahun ini tampaknya tak akan sehangat tahun lalu. Hal itu setidaknya tercermin

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
afp
Batubara 

Tapi, meski DMO berlanjut, transfer kuota masih bisa mengompensasi tekanan dari perbedaan harga antara batubara DMO dan global.

Perusahaan batubara yang kelebihan kuota DMO bisa menjualnya ke perusahaan lain yang masih kekurangan.
Harga transfer kuota ditentukan business to business (B2B).

Analis menilai perusahaan yang kesulitan memenuhi kuota DMO pasti akan menyerap kelebihan produksi batubara perusahaan lain. Sebab, hukuman bagi perusahaan yang gagal memenuhi kiota berupa pemotongan kapasitas produksi.

Andy memberi overweight dengan sektor batubara. Tapi, ia memberi rekomendasi hold untuk PTBA dengan target harga Rp 5.000 per saham. "Itu karena potensi upside PTBA kurang dari 10%," kata Andy. Kemarin, saham PTBA ditutup di Rp 4.480 per saham.

Biaya Emiten Berbasis Baja Bisa Meningkat

Pemerintah tengah menggodok berbagai upaya untuk menahan potensi limpahan impor ke dalam negeri akibat perang dagang. Salah satu caranya lewat hambatan non tarif atau non tariff barriers.

Jadi, pemerintah akan menerapkan hambatan berupa persyaratan teknis yang harus dipenuhi produk sebelum masuk Indonesia. Hal ini akan berimbas pada impor bahan-bahan industri, termasuk baja dan logam.

Apakah kebijakan ini akan berimbas pada biaya produksi emiten baja? Direktur Pemasaran Krakatau Steel (KRAS) KRAS Purwono Widodo mengatakan non tariff barriers untuk mengurangi impor justru menjadi sentimen positif bagi KRAS.

"Ini akan sangat membantu KRAS karena bisa mengurangi impor baja yang terindikasi merusak harga, seperti baja paduan dari China," kata dia, kemarin (31/7).

Menurut Purwono, selama ini ada peningkatan impor baja harga murah, sehingga merusak harga di pasar domestik. Dengan kebijakan ini, volume impor baja asal China untuk dijual di pasar domestik akan berkurang.

Jika impor baja paduan yang murah berkurang, KRAS dapat memaksimalkan penggunaan produksi baja dalam negeri. Jika masih kurang, impor bisa dilakukan secara fair, sehingga tidak merusak harga di pasar domestik.

Direktur PT Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO) Rubianto menyebut, non tariff barriers tak mempengaruhi kinerja secara langsung. Sebab, produsen kemasan berbahan metal ini tak menggunakan produk impor, melainkan dari Krakatau Steel.

Biaya produksi naik

Namun, ia tak menampik kebijakan ini bisa menyebabkan harga bahan baku baja secara global naik. Dus, harga produk KRAS berpotensi naik.

Jika ini terjadi, perusahaan menanggung kenaikan biaya, sehingga harga jual produk harus naik. "Jika nanti naik 5%, kami perlu koreksi harga," imbuh Rubianto.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved