Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Fintech Lokal Siap Bersaing dengan Asing

Peluang bisnis financial technology (fintech) lending di Indonesia cukup menarik. Banyaknya pemain fintech asing.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Thinkstock/Nelosa
Ilustrasi asuransi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Peluang bisnis financial technology (fintech) lending di Indonesia cukup menarik. Banyaknya pemain fintech asing yang masuk ke Indonesia menjadi indikator.

Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku tidak akan membedakan syarat bisnis fintech lending asing.

Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot menegaskan, pemain fintech dari dalam atau luar negeri sesuai Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang fintech lending. Menurutnya, penyusunan POJK 77 tahun 2016 ini telah mencerminkan kondisi global dan nasional.

"Penyusunan draf ini sudah didahului dengan kajian mendalam hingga antar lintas negara," kata dia.
Perlakuan yang sama tersebut cukup sehat bagi industri. Kini yang perlu dilakukan adalah industri menyiapkan strategi untuk bisa bersaing secara sehat.

PT Investree Radhika Jaya (Investree) telah menyiapkan strategi khusus menghadapi persaingan dengan fintech peer to peer (P2P) lending asing terutama dari China yang menyerbu pasar pembiayaan digital di Indonesia.

Co-Founder dan CEO Investree Adrian Gunadi mengaku Investree mempunyai model bisnis pembiayaan cocok dengan kebutuhan penduduk di Indonesia.

"Segmen bisnis Investree fokus di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dan pasar kami bidik ini cocok dengan di Indonesia," klaim
dia kepada KONTAN, Minggu (29/7).

Fokus ke UMKM

Sedangkan fintech asal China, lebih fokus pada model bisnis pinjaman payday loan, yaitu pinjaman kecil jangka pendek. Biasanya, peminjam dikenakan bunga harian dan nominal pinjaman di bawah Rp 25 juta. Investree juga membangun ekosistem meperkuat jaringan bisnis.

Misalnya, bekerjasama dengan fintech lain yaitu PT Star Mercato Capitale, lewat platform investasi reksadana online bernama Tanamduit. Kerjasama lain dengan marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak dan Bhinneka.

Investree juga kerjasama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk menjangkau nasabah di daerah.

PT Mitrausaha Indonesia Group (Modalku) juga memiliki fokus pada pembiayaan UMKM. "Rata-rata platform menyasar pinjaman ke UMKM, saya bilang cukup kredibel dan memiliki visi yang baik," tegas CEO Modalku Reynold Wijaya. Dia juga bilang, fokus ke UMKM berbeda dengan fintech asing dari China.

PT Akseleran Keuangan Inklusi Indonesia pun yakin bisa bersaing karena memiliki target pasar berbeda dengan fintech asing. "Debitur kami berasal dari UKM kelas menengah atas yang nilai pinjamannya lebih dari Rp 500 juta," ujar Co-Founder & CEO Akseleran Ivan Nikolas Tambunan.

Sedangkan menurut Ivan, fintech China mengandalkan analisa data mesin. Sementara Akseleran, juga mengandalkan sistem data besar (big data) untuk mengetahui laporan atau transaksi pembiayaan peminjam (cash flow).

Dalam skema cash flow sulit diterapkan fintech China karena membutuhkan sumber daya manusia (SDM) di bidang perbankan dan keuangan Indonesia. "Mereka tidak punya orang lokal menjalankan bisnis di sini," ujar dia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved