Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rupiah Masih Sulit Kembali Terbang

Nilai tukar rupiah bergerak makin liar. Kemarin, kurs rupiah kembali mencetak rekor level terendahnya yang baru di tahun ini.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Thinkstockphotos.com
Ilustrasi rupiah 

Analis Monex Investindo Futures Faisyal bahkan lebih pesimistis. Ia melihat, rencana kenaikan suku bunga The Fed dua kali lagi berpotensi membuat rupiah tak mampu kembali ke level Rp 13.000 dan akan berakhir di Rp 15.000 per dollar AS.

Ilustrasi dollar AS
Ilustrasi dollar AS (SHUTTERSTOCK)

Infrastruktur, Motor Kredit Korporasi

Pinjaman korporasi unjuk gigi. Sebagai bukti, kredit korporasi mampu tumbuh tinggi di tengah perlambatan pertumbuhan kredit. Infrastruktur disinyalir menjadi motor penggerak kredit korporasi.

Dua bank papan atas yakni Bank Mandiri dan Bank BN) membukukan pertumbuhan dua digit pada kredit korporasi. Misalnya, kredit korporasi Bank Mandiri sebesar 22,2%, sedangkan korporasi BNI tumbuh 10,4%.

Dikdik Yustandi, Senior Executive Vice President Bank Mandiri mengatakan, mayoritas kredit korporasi mengalir ke proyek infrastruktur. Hingga Juni 2018, kredit ke infrastruktur mencapai Rp 165,8 triliun dari limit senilai Rp 255,3 triliun.

Kredit infrastruktur terbesar mendarat di sektor ketenagalistrikan sebesar Rp 36,8 triliun, transportasi mencapai Rp 39,3 triliun, serta, sektor minyak, gas dan energi terbarukan Rp 24,1 triliun

Sisanya, pinjaman infrastruktur untuk konstruksi Rp 18,3 triliun, telematika Rp 17,5 triliun, jalan tol Rp 10,6 triliun, perumahan dan fasilitas kota Rp 9,6 triliun dan sektor lainnya Rp 9,6 triliun.

"Hingga akhir tahun, kredit korporasi masih dapat tumbuh sebesar 15%," katanya Jumat (20/7). Untuk mencapai target, Bank Mandiri membiayai korporasi lewat sindikasi. Setidaknya, kredit ini tumbuh 13%-15% hingga akhir tahun.

Tambok P. Setyawati, Direktur Konsumer BNI menuturkan, pertumbuhan kredit di paruh pertama dikontribusi oleh kredit korporasi. Terutama didorong oleh pemberian kredit ke manufaktur, transportasi, komunikasi, konstruksi dan perdagangan.

Bank swasta seperti Bank Central Asia (BCA) turut menggelontorkan kredit ke infrastruktur. Hingga semester I-2018, kredit sebanyak Rp 25 triliun telah mengalir untuk proyek infrastruktur.

Yuni Melati Suryaningrum, Vice President Corporate Banking BCA bilang, skema kredit infrastruktur ini terdiri menggunakan dua tipe. Yakni, kredit infrastruktur melalui sindikasi dan non sindikasi.

Sektor listrik dan jalan tol menjadi target BCA dalam memberikan kredit infrastruktur. Bank berkode saham BBCA ini memproyeksikan kredit infrastruktur akan mencapai Rp 33 triliun di akhir tahun.

Sebagai bank daerah, Irvandi Gustari, Direktur Utama Bank Riau Kepri mengaku, ikut mengincar pembiayaan kredit ke infrastruktur. Saat ini, realisasi kredit ke infrastruktur sebesar Rp 400 miliar per Juni 2018.

"Kami memperkirakan kredit infrastruktur akan menjadi Rp 1,3 triliun di akhir tahun," terang Irvandi. Mayoritas kredit ini untuk jalan tol bandara dan pelabuhan.

Biayai proyek jalan tol

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved