Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bunga Naik, Bersiaplah Membayar Cicilan Lebih Berat

Efek kenaikan bunga acuan terus bergulir. Terbaru,. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kembali mengerek bunga sebesar

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
Mata uang rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Efek kenaikan bunga acuan terus bergulir. Terbaru,. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kembali mengerek bunga sebesar 25 basis poin (bps). Kini bunga penjaminan bertengger di level 6,25%.

Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS, mengatakan, kenaikan bunga penjaminan mengikuti perkembangan bunga simpanan yang menunjukkan kenaikan secara gradual. Rata-rata bunga deposito rupiah sebesar 5,48% per Juni 2018.

Dipastikan kenaikan bunga acuan penjaminan ini akan memicu kenaikan bunga deposito. Ujungnya, bunga kredit bakal terseret naik, karena bank harus menanggung biaya dana atau cost of fund.

Terbukti, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) memproyeksikan bunga deposito bisa naik 25 bps-50 bps. Kemudian. Kemudian bunga kredit akan mengekor naik, terutama untuk bunga kredit yang masih murah.

Bank BNI akan menaikkan bunga deposito 25 bps sampai 50 bps pada semester II. "(Suku bunga deposito) perbankan semester II naiknya bervariasi," kata Achmad Baiquni, Rabu (18/7).

Kenaikan bunga kredit memang tidak bisa dihindari seiring kenaikan bunga simpanan. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP, mengatakan, akan menaikkan bunga kredit di kuartal ketiga.

Bunga yang kian mekar ini terjadi pada semua segmen. Pada 28 Juni 2018 tercatat, rata-rata bunga OCBC NISP masih di atas 10%. Hanya bunga korporasi yang berbunga 10%, sisanya, ritel 11%, KPR 10,2%, dan non KPR 10,75%.

Kendati demikian, perang suku bunga tidak terjadi pada seluruh bank. Darmawan Junaidi, Direktur Tresuri dan Internasional Bank Mandiri mengaku, biaya dana tidak naik secara signifikan. Bank Mandiri belum berencana menaikkan bunga kredit.

Senada, Mahelan Prabantarikso, Direktur Bank Tabungan Negara (BTN) bilang, pihaknya masih melihat kondisi daya beli masyarakat sebelum memutuskan kenaikan bunga. Ia mengaku, terjadi persaingan bunga antarbank baik bunga deposito maupun kredit.

Separuh Pertama 2018, Penyerapan Belanja Modal Perbankan Masih Minim

Perbankan mulai menyerap anggaran belanja modal. Mayoritas belanja modal atau capital expenditure (capex) mengalir untuk pengembangan teknologi infrastruktur.

Pada awal tahun 2018, Bank BNI menggelontorkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk belanja modal. Nah, sekitar 10% dana capex tersebut sudah terserap di semester I-2018.

"Capex terbesar untuk pengembangan sisi otomatisasi," kata Anggoro Eko Cahyo, Direktur Keuangan BNI, Rabu (18/7). Ke depan, bank berpelat merah ini akan terus menggunakan belanja modal untuk pengembangan digital.

Dadang Setiabudi, Direktur Teknologi Informasi BNI menambahkan, sebanyak 50% dari dana tersebut dialokasikan untuk mendorong proyek-proyek digital BNI. Dari sisi anggaran sebagian belanja modal untuk peremajaan infrastruktur dan pengembangan digital banking BNI.

Sedangkan, Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, pihaknya menggelontorkan anggaran sebesar Rp 100 miliar sampai Rp 200 miliar untuk capex. Sebagian besar dana tersebut masuk ke dalam kantong pengembangan teknologi informasi (TI).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved