Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Melihat Pesona Emiten Kontraktor Swasta

Sektor konstruksi sempat digadang-gadang sebagai sektor yang menarik untuk investasi tahun ini. Nyatanya, banyak harga

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribun
Pergerakan saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sektor konstruksi sempat digadang-gadang sebagai sektor yang menarik untuk investasi tahun ini. Nyatanya, banyak harga saham emiten konstruksi yang malah ambruk, terutama emiten konstruksi badan usaha milik negara (BUMN).

Tapi nasib serupa tidak dialami saham konstruksi swasta. Harga saham emiten konstruksi non pelat merah ini masih bisa naik di periode sebulan terakhir.

Ambil contoh saham PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS). Pada penutupan perdagangan Rabu (11/7), harga saham ini sudah mencatatkan kenaikan 28,26% menjadi Rp 985 per saham. Saham PT Total Bangun Persada Tbk juga masih bisa mencatatkan kenaikan sekitar 3,23% menjadi Rp 640.

Bandingkan dengan saham konstruksi BUMN yang justru merosot. Harga saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) turun 21,70% menjadi Rp 1.840 per saham selama sebulan terakhir. Sementara saham PT PP Tbk (PTPP) turun 18,15% dalam sebulan menjadi Rp 2.160 per saham.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menyebut, salah satu hal yang menjadi sentimen negatif bagi saham konstruksi BUMN adalah kepastian proyek yang sedang digarap. "Investor melihat apakah proyek bisa berlanjut atau tidak setelah pemilu nanti," ujar dia, Rabu (11/7).

Selain itu, emiten konstruksi pelat merah sempat tertekan sentimen negatif arus kas operasional yang minus. Sementara, emiten sektor konstruksi swasta tidak mengalami masalah cash flow seperti emiten BUMN.

Dari sisi fundamental, kinerja emiten konstruksi non pelat merah juga cukup dahsyat. TOPS misalnya, sudah meraih 51% target kontrak baru tahun ini.

Tak heran, harga saham ini melesat cukup tajam bila dihitung sejak awal tahun (lihat tabel).

Kontrak baru

TOTL juga tidak kalah agresif. Emiten ini tengah mengincar pipeline proyek senilai Rp 10 triliun tahun ini. Jumlah proyek baru tersebut sebanyak 14 proyek.

Mahmilan Sugiyo, Sekretaris Perusahaan TOTL, mengatakan, proyek yang tengah diincar antara lain proyek gedung, dengan kepemilikan sebagian besar swasta.

Proyek tersebut didominasi proyek gedung hunian apartemen tingkat tinggi. "Karena masih proses perhitungan atau lelang dan sebagainya, nama-nama proyek tidak bisa kami sebutkan," ujar Mahmilan.

Sekadar informasi, TOTL menargetkan total kontrak baru sepanjang tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Bila seluruh proyek dalam pipeline berhasil diperoleh, mak target kontrak baru akan tercapai. Saat ini, kontrak baru TOTL baru sekitar Rp 867 miliar.

Muhammad Nafan Aji, analis Binaartha Parama Sekuritas, menilai harga TOTL masih menarik. "PER TOTL sebesar 7 kali, jadi sudah tergolong murah dan bisa cicil beli," kata dia. Ia menghitung target harga TOTL di Rp 700.

Sementara, kenaikan tinggi harga saham TOPS membuat valuasi saham ini menjadi terlalu tinggi. Dus, Nafan merekomendasikan investor wait and see di saham TOPS. (Yoliawan Hariana)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved