Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Longsor dan Banjir Hantam Jepang: 48 Orang Tewas

Hujan lebat yang mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor di Jepang memakan korban jiwa hingga 48 orang.

Editor: Lodie_Tombeg
kompas.com
Petugas penyelamat bekerja untuk membersihkan puing di rel kereta kota Karatsu, Prefektur Saga, yang anjlok akibat tanah longsor Sabtu (7/7/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOKYO - Bencana banjir dan tanah longsor tak hanya terjadi di Tanah Air. Sejumlah negara pun tidak luput dari musibah ini, Hujan lebat yang mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor di Jepang memakan korban jiwa hingga 48 orang.

Di sisi lain, pemerintah mendorong perintah evakuasi terhadap dua juta penduduk yang tinggal di bagian tengah dan barat negara itu. Perdana Menteri jepang Shinzo Abe mengatakan pada Minggu (8/7/2017) upaya untuk menyelamatkan korban banjir akan berpacu dengan dengan waktu, mengingat adanya peringatan terbaru tentang hujan lebat. "Menyelamatkan jiwa dan evakuasi merupakan hal yang akan berpacu dengan waktu," katanya.

"Masih banyak orang yang belum dikonfirmasi tentang keamanannya," imbuhnya. Longsor dan banjir bandang terjadi di wilayah Hiroshima, Ehime, Okayama, Kyoto, dan area lainnya.

Desa-desa terendam banjir dengan hanya bagian atas lampu lalu lintas yang terlihat. Juru bicara utama pemerintah Yoshihide Suga mengatakan, jumlah korban tewas diperkirakan akan bertambah, menyusul laporan dari media lokal yang menyatakan lebih dari 50 orang tewas dan puluhan lainnya hilang. Perintah evakuasi terhadap 2 juta orang untuk mengungsi tidak sepenuhnya diikuti penduduk.

Banyak yang tetap bertahan di dalam rumah sehingga membuat mereka terjebak oleh air yang naik secara cepat dan tanah longsor yang tiba-tiba. Sementara itu, badan meteorologi mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk dua wilayah baru pada Minggu (8/7/2018).

Status peringatan di wilayah lain dicabut mengingat hujan sudah mereda. Lebih dari 50.000 anggota tim penyelamat, polisi, dan personel militer diterjunkan.

Beberapa warga mengungkapkan, rumah mereka hancur dan jalanan di sekitar rusak. "Rumah saya hanyut dan hancur total," kata seorang warga Toshihide Takigawa. "Saya berada di dalam mobil dan banjir bandang mengarah ke saya dari depan dan belakang, dan kemudian seperti menelan jalanan," kata seorang warga lain, Yuzo Hori.

Di beberapa titik, tim penyelamat menggunakan perahu dan helikopter untuk mengangkut warga ke tempat yang aman. Beberapa produsen besar, termasuk Daihatsu dan Mitsubishi menghentikan operasional pabrik di wilayah yang terkena bencana.

Banjir bandang dan tanah longsor menjadi krisis terkait hujan paling mematikan di Jepang sejak 2014. Pada tahun itu, setidaknya 74 orang tewas akibat tanah longsor yang disebabkan hujan deras di wilayah Hiroshima.

Rumah terendam banjir di Kurashiki, Prefektur Okayama, Jepang, pada Minggu (8/7/2018).
Rumah terendam banjir di Kurashiki, Prefektur Okayama, Jepang, pada Minggu (8/7/2018). (kompas.com)

Hujan Lebat di Jepang Telan Tiga Korban Jiwa

Hujan lebat di Jepang membuat tiga orang tewas yang hanyut akibat meningkatnya debit air sungai.

Diwartakan AFP, Jumat (6/7/2018), hujan lebat juga mendorong pihak berwenang memerintahkan evakuasi terhadap 210.000 orang. Sementara, salah satu korban tewas ditemukan di sungai yang terletak di Gifu, Jepang tengah.

Seorang pria berusia 59 tahun juga tewas di sungai, di Hiroshima barat. Baca juga: Gurita Peramal Hasil Jepang di Piala Dunia Berakhir Jadi Makanan Korban tewas ketiga merupakan perempuan usia 52 tahun di wilayah Kyoto yang hilang sejak Kamis (5/7/2018) malam.

Polisi menemukan dia di aliran sungai, di Osaka. Pada hari sebelumnya, seorang pekerja konstruksi tewas karena hanyut oleh air banjir di wilayah Hyogo. Beberapa orang dilaporkan hilang, tanah longsor dan banjir bandang juga diterjadi di sebagian daerah. Sebanyak 230 orang di prefektur Kochi barat tidak dapat dievakuasi karena jalan-jalan terhalang tanah longsor.

Pihak berwenang mengumumkan perintah evakuasi baru pada Jumat (6/7/2018). Total sebanyak 210.853 orang, sebagian besar di Jepang barat, harus segera meninggalkan rumah mereka. Badan Meteorologi Jepang menaikkan status peringatan menjadi luar biasa atau tingkat tertinggi di Fukuoka selatan, Prefektur Saga dan Nagasaki.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved