Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ambil Untung dari Perang Dagang

Harga minyak mentah mencapai US$ 73,94 per barel diharapkan dapat membawa angin segar bagi emiten

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Youtube
Polisi Sebut Sumur Minyak Semburkan Api di Aceh Timur Dikelola Swadaya oleh Masyarakat 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Harga minyak mentah mencapai US$ 73,94 per barel diharapkan dapat membawa angin segar bagi emiten perkebunan sawit. Biasanya, saat harga minyak naik, maka biodiesel, produk turunan sawit, jadi buruan. Maklum, biodiesel kerap jadi substitusi minyak.

Permintaan biodiesel sendiri antara lain datang dari pemerintah. Tahun ini, pemerintah menargetkan kenaikan konsumsi biodiesel menjadi 22,4% year on year (yoy) menjadi 3,5 juta kiloliter untuk 2018, dari 2,86 juta kiloliter tahun lalu.

Kepala Riset Narada Aset Manajemen Kiswoyo Adi Joe melihat, pertumbuhan konsumsi ini bisa meningkatkan permintaan dan harga jual CPO. Maklum, sudah dua tahun sektor CPO lesu karena harga jual turun.
Cek kinerja keuangan

Selain itu, beberapa sentimen global juga diharapkan dapat mengerek harga jual minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO). Salah satunya, sentimen perang dagang antara AS dan China.

China antara lain mengenakan tarif impor atas produk kedelai asal AS. Hal ini bisa membuat konsumen minyak kedelai beralih menggunakan CPO, yang merupakan produk substitusi minyak kedelai.
Analis Senior Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyebut, siklus tahunan El Nino yang biasanya terjadi di kuartal tiga juga dapat mendorong permintaan CPO.

Meski begitu, investor perlu melihat kinerja laporan keuangan emiten di kuartal kedua sebelum memutuskan masuk ke saham-saham CPO. "Ada sentimen lain yang mungkin belum terdeteksi, seperti hari ini rupiah kembali tertekan," ujar William.

Kiswoyo memaparkan, meski punya prospek menarik tak semua saham CPO layak jadi pilihan. "Emiten yang punya usia tanaman lebih produktif bisa jadi unggulan," kata Kiswoyo.
Kiswoyo merekomendasikan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Meksi masih mencatatkan kerugian sebesar

Rp 56,67 miliar, usia tanaman BWPT berkisar enam hingga delapan tahun. "Masa keemasan tanaman sawit sampai 15 tahun, produksi buahnya bisa meningkat cepat," ujar dia.

Kiswoyo memasang target harga BWPT di Rp 400 per saham. "Untuk jangka panjang, setahun sampai dua tahun ke Rp 500 masih bisa," kata dia.

William merekomendasikan PT PP London Sumatera Indonesia (LSIP) dan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA). Ia menilai LSIP punya potensi bagus lantaran DER terjaga di level 23,01 kali. "

LSIP juga punya porsi tanaman produktif seluas 87.046 hektare (ha) dan tanaman muda seluas 8.258 ha. Selain itu, penjualan LSIP lebih banyak ke pasar domestik, karena itu tidak terpengaruh sentimen nilai tukar," kata William.

Sementara prospek TBLA bagus karena diversifikasinya di tanaman tebu. Saat harga jual CPO rendah, TBLA punya potensi pendapatan dari penjualan tebu. William memprediksi pendapatan TBLA capai Rp 9,1 triliun tahun ini. 

Pabrik Baja
Pabrik Baja (afp)

Perang Dagang Jadi Beban Komoditas

Memanasnya perang dagang di akhir semester I-2018 menjadi sentimen negatif bagi pergerakan komoditas logam industri. Alhasil, sepanjang enam bulan pertama 2018 ini, harga sebagian besar komoditas logam terkoreksi.

Hanya nikel yang berhasil mencatatkan kenaikan harga di semester satu lalu. Jumat (29/6), harga nikel kontrak pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) ada di US$ 14.900 per metrik ton. Angka ini naik 16,77% ketimbang akhir 2017 lalu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved