Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Margin Bank Akan Tertekan Pelemahan Rupiah

Perbankan bakal gigit jari. Kenaikan bunga acuan BI sebanyak 100 basis poin (bps) tahun ini belum dapat mengerek bunga kredit

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
afp
Rupiah dan Dollar AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Perbankan bakal gigit jari. Kenaikan bunga acuan BI sebanyak 100 basis poin (bps) tahun ini belum dapat mengerek bunga kredit secara cepat, padahal bunga deposito telah mengikuti jejak peningkatan bunga acuan.

Akibatnya, margin bunga bersih atau net interet margin (NIM) akan lebih tertekan. Sebab, bank akan mengeluarkan biaya dana lebih besar dibandingkan perolehan pendapatan dari bunga kredit.

Saat ini, margin bank terpangkas 28 bps menjadi 5,07% per April 2018. Koreksi margin terbesar berada di kelompok bank besar. Misalnya, rasio NIM kelompok BUKU III menurun 39 bps menjadi 4,12%, dan margin bank kelompok BUKU IV turun 22 bps menjadi 5,8%.

Royke Tumillar, Direktur Korporasi Bank Mandiri mengatakan, tekanan margin tidak akan terlalu banyak di tahun ini. "Karena pinjaman sebagian besar adalah floating rate," kata Royke.

Sementara itu, Fahmi Bagus Mahesa, Direktur Utama Bank Banten menuturkan, dalam jangka pendek bank akan mengerek bunga kredit agar margin dapat seimbang.

Kookmin Bank Calon Investor Bukopin

Rencana penerbitan saham baru PT Bank Bukopin Tbk bakal berjalan mulus. Bank berkode saham BBKP ini sudah mendapatkan izin untuk menggelar rights issue tersebut dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Restu ini diperoleh Bank Bukopin pada Jumat pekan lalu (29/6). Nah, rights issue ini akan mempertebal modal Bank Bukopin.

Bukan itu saja, Rachmat Kaimudin, Direktur Keuangan Bank Bukopin mengatakan, pembeli siaga (stand by buyer) rights issue juga sudah ada, yaitu Kookmin Bank dari Korea Selatan. "Betul. Efektif sudah kami dapatkan,"
katanya kepada KONTAN, Minggu (1/7).

Bank milik Grup Bosowa ini akan menerbitkan saham baru melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 2,7 miliar saham. Adapun harga rights issue sekitar Rp 500 sampai Rp 700 per saham. Artinya, Bank Bukopin akan menyerap dana dari hasil rights issue sebesar Rp 1,9 triliun hingga Rp 2 triliun.

Dana yang diserap dari aksi korporasi ini nanti akan mereka gunakan untuk meningkatkan rasio modal. Setidaknya, Bukopin akan dapat mendongkrak rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) menjadi 14% dari saat ini 11%.

Rachmat menjelaskan, modal ini diperlukan bagi Bukopin untuk mengejar pertumbuhan kredit. Langkah awal, Bukopin akan fokus pada penyaluran kredit UMKM.

Asal tahu saja, Bukopin mencatat penurunan kredit 1,43% menjadi Rp 67,22 triliun per Mei 2018, dari posisi sebelumnya senilai Rp 68,20 triliun pada Mei 2017.

Apabila rencana rights issue tak berjalan sesuai rencana. Bank Bukopin juga telah menyiapkan rencana cadangan. Kata Rachmat, rencana cadangan tersebut antara lain dengan mencari investor lain, atau menerbitkan obligasi subordinasi.

Saat ini, porsi saham BBKP yang dimiliki oleh Negara Republik Indonesia sebanyak 11,43% saham, lalu PT Bosowa Corporindo 30%, Kopelindo 18,09% dan saham publik sebanyak 40,48%.

Heru Kristiyana Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK membenarkan restu rights issue Bank Bukopin tersebut. Ia juga mengatakan bahwa Kookmin Bank akan menjadi pembeli siaga aksi korporasi itu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved