Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Proyeksi IHSG: Terseret Saham Perbankan

Bank Indonesia kembali mengerek suku bunga BI 7 days reverse repo rate (BI-7DRR) di akhir bulan lalu sebesar 50 basis poin

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan lalu, Jumat (29/6), 2% ke level 5.799. Penguatan merupakan respon atas ekspektasi stabilnya rupiah setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin.

Namun, penguatan itu diprediksi hanya sesaat. "Indeks diperkirakan kembali melemah," ujar analis Artha Sekuritas Indonesia Juan Harahap, Jumat (29/6).

Kenaikan BI rate berpotensi menekan sektor yang sensitif terhadap suku bunga, perbankan. Tekanan kian besar setelah ada kebijakan keringanan LTV yang berpotensi kian menekan margin perbankan. Karena bobot saham perbankan terhadap IHSG kuat, Juan mempredksi IHSG awal pekan, Senin (2/7), bakal melemah dengan rentang pergerakan 5.763-5.870.

Fundamental perekonomian seperti data inflasi untuk saat ini diperlukan. Pemerintah bakal merilis data inflasi. "Inflasi diperkirakan terkendali, sehingga dapat memberikan sentimen positif," tambah Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya. IHSG akan naik dengan rentang 5.640-5.958. Saham HMSP, SMRA, SRIL, dan SMCB layak dicermati.

Bunga Acuan Naik, Biaya Dana Melesat

Bank Indonesia kembali mengerek suku bunga BI 7 days reverse repo rate (BI-7DRR) di akhir bulan lalu sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Industri pembiayaan pun menjadi salah satu sektor yang dinilai bakal terkena dampaknya.

Kenaikan suku bunga acuan ini bakal mengerek suku bunga pinjaman yang biasa didapat perusahaan pembiayaan dari perbankan. Dus, biaya dana yang bisa didapat industri pembiayaan pun biasanya ikut meningkat.

Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, sekitar 60% sampai 70% sumber dana multifinance dari perbankan. Pergerakan suku bunga perbankan akan terasa dampaknya bagi beban biaya dana yang harus ditanggung.

Malah, efek kenaikan suku bunga biasanya tak cuma berhenti di pinjaman bank. Kenaikan suku bunga ini akan ikut berdampak pada pergerakan kupon surat utang yang diterbitkan multifinance.

Senada, Managing Director PT Indosurya Inti Finance Mulyadi Tjung menilai setelah BI menaikan suku bunga beberapa kali, beban biaya dana pun bisa ikut terkerek. "Cost of fund kemungkinan besar akan ikut naik," kata dia.

Meski begitu, ia menilai, dampak dari kenaikan beban biaya ini tidak akan dirasa dalam waktu pendek. Pasalnya rencana pendanaan untuk tahun ini sudah mulai disiapkan dari tahun lalu saat masih menggunakan bunga lama.

Namun dampak kenaikan tersebut akan terasa saat akan mencari pendanaan berikutnya di kemudian hari. Di tahun ini, multifinance ini menargetkan pembiayaan Rp 2,46 triliun alias naik 20% dari realisasi tahun lalu. Sementara per bulan Mei, realisasinya mencapai Rp 846 miliar.

Direktur PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo mengakui kenaikan suku bunga bakal berdampak pada pasar pembiayaan. Selain mengerek biaya dana, kenaikan suku bunga ini lambat laun bakal diikuti oleh bunga kredit yang bakal dikenakan pada nasabah baru.

Meski begitu, MTF optimistis bisa mengejar target pembiayaan tahun ini. Sejumlah faktor masih bisa menjadi pendorong bagi permintaan kendaraan di sisa tahun ini. "Diantaranya pertumbuhan ekonomi yang masih bisa tumbuh lebih baik di tahun ini sehingga ikut meningkatkan daya beli," kata Harjanto.

MTF sendiri memasang target pembiayaan sebesar Rp 24 triliun alias naik 8,1% di tahun ini. Sampai bulan Mei 2018, MTF telah mencatatkan nilai pembiayaan sebanyak Rp 11,3 triliun. (Tendi Mahadi/Dityasa Hanin F/Krisantus de Rosari B)

Outstanding Pinjaman
Perusahaan Pembiayaan
(Rp miliar)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved