Renungan Minggu

Kerendahan Hati dan Ketaatan Membawa Kemenangan

Suatu persoalan bisa muncul karena adanya masalah komunikasi, di antaranya terjadi perbubahan karakter komunikasi.

Kerendahan Hati dan Ketaatan Membawa Kemenangan
TRIBUN MANADO/CHINTYA RANTUNG
Pdt Hesky Manus MTh 

Renungan Minggu oleh:
Pdt Hesky Manus MTh
Pendeta di GMIM Wilayah Tondano IV

Pembacaan: Bilangan 14:39-45

SUATU persoalan bisa muncul karena adanya masalah komunikasi, di antaranya terjadi perbubahan karakter komunikasi.

Artinya, komunikasi memang ada tetapi bersifat saling menuduh dan mempersalahkan.

Dan hal ini menjadi tanda dari rusaknya suatu hubungan.

Kalau kita menelusuri lebih jauh asal-muasal kerusakan hubungan komunikasi antara Allah dengan bangsa Israel, letaknya pada ketidaksetiaan dan ketidakdengar-dengaran orang Israel sendiri.

Kesetiaan mereka diuji oleh pengalaman menderita.

Mereka akhirnya gagal lewat sungut-sungutan dan pemberontakan.

Dan alamat kesalahan lalu diarahkan kepada Musa, Harun dan Tuhan Allah.

Dalam Bilangan 14:2-4 diceritakan mereka bersungut-sungut dan berkata: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?" Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir."

Pengalaman pahit tidak membuat mereka makin sadar akan rencana agung Allah membawa ke tanah Perjanjian, malah makin mengeraskan hati.

Hari demi hari berlalu, namun mereka tidak belajar dari kesalahan.

Musa yang selalu tampil sebagai negosiator, kini mulai tampak kehabisan akal.

Sekali lagi ia meminta pengampunan atas sungut-sungut bangsanya.

Inilah yang diangkat dalam Bilangan 14:39-45. Tuhan Allah mengiyakan dengan mengajukan syarat bahwa Ia akan tetap mengantar bangsa itu ke tanah Kanaan, namun hanya akan membawa anak-anak generasi baru serta Yosua dan Kaleb.

Mengapa mereka berdua, karena mereka memiliki cara pandang berbeda tentang tanah Kanaan.

Ketika muncul keraguan dan ketakutan memasuki Kanaan, mereka yakin sepenuh-penuhnya bahwa Tuhan akan menyerahkan Kanaan, asalkan umat setia kepada Tuhan.

Ketika kebanyakan orang jatuh dalam sungut-sungut, keduanya yakin dan berpasrah pada janji penyertaan Tuhan.

Dalam titik yang paling lemah, iman percaya Yosua dan Kaleb sungguh teruji.

Tuhan pun memuji mereka, dan merendahkan sekalian bangsa serta menyatakan pehukumanNYA.

Pada titik inilah, ketika mendengar berita penghukuman, orang Israel berkabung dengan sangat.

Sayangnya, perkabungan itu tidak menghasilkan pencerahan, mereka malah makin membabi-buta.

Bukannya merenungkan dosa-dosa mereka dan menyatakan pertobatan, yang dilakukan adalah tindakan yang di luar perintah Tuhan.

Lagi-lagi, umat gagal menangkap makna dari pesan yang dikomunikasikan Allah.

Mereka jadi tidak sabaran dan hendak “mendahului” rencana Tuhan.

Sudah difirmankan supaya umat tidak berjalan terus.

Orang Amalek dan Kanaan ada di lembah.

Mereka harus berbalik besok, dan berangkat ke padang gurun, ke arah laut Teberau.

Jika tidak, mereka akan dikalahkan.

Alasannya, karena jika mereka maju, Tuhan tidak beserta mereka.

Apakah jawaban dari perintah Tuhan ini?

Ayat 44-45 menginformasikan kepada kita bahwa “mereka nekat naik ke puncak gunung itu.”

Mereka berkeras hati melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki Tuhan.

Belum sampai mereka mendaki gunung itu, orang Amalek dan Kanaan telah turun menyerang mereka.

Hasil akhirnya dapat dipastikan: Kekalahan telak.

Sekelompok orang yang telah dirasuki pengandalan diri ini tanpa mendengar firman, tercerai-berai.

Barangkali mereka berpikir, mari kita coba bertempur, siapa tahu kita menang, walaupun Tuhan tidak beserta kita daripada kembali ke padang gurun.

Pikiran seperti ini bisa disebut “berpikir pendek” dan menjurus pada fatalistik.

Pada hakikatnya peperangan mereka bukan peperangan fisik semata namun peperangan rohani, peperangan dalam diri mereka sendiri, di mana ada ketaatan di situ ada kemenangan.

Jadi kerendahan hati yang membawa ketaatan mendahului kemenangan.

Panggilannya jelas: Hidup taat kepada Tuhan. Untuk taat orang harus rendah hati.

Kerendahan hati seperti kelembutan hati, dapat disalahartikan dengan suatu kelemahan.

Lalu di manakah letak kekuatannya? Kekuatan kerendahan hati ada pada kelapangan menerima sesuatu.

Kelapangan dan keluasan yang menunjuk pada kepasrahan atas karya dan tindakan Allah.

Kerendahan hati mengandaikan kesediaan menerima apa yang baik dari Tuhan dan sesama, dan memaknainya dalam tindakan yang luhur dan mulia.

Ketaatan atau kesetiaan memang bernada heroik.

Suatu komitmen untuk melakukan sesuatu dengan konsisten dan sedia pula mengambil resiko.

Namun ketaatan yang dimaksudkan, selalu merupakan buah dari kerendahan hati.

Oleh karena itu, ketaatan jenis ini bukan bersifat buta tanpa arah.

Ketaatan yang demikian terikat pada panggilan yang jauh lebih tinggi dari diri kita yakni pada Tuhan Allah sendiri.

Demikianlah, ketaatan memang sering teruji pada saat-saat genting, penuh derita, dan menentukan.

Di dalam ketaatan-Nya kepada BapaNya, Yesus berkata: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42).

Rasul Paulus sendiri memaknai dilema “kemanusiaan” Yesus untuk taat sampai mati dalam Filipi 2:8: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Kendati tampak penuh dilema dan kadang menggentarkan, namun suara supaya selalu setia kepada Allah dalam Yesus Kristus merupakan harga yang tidak dapat ditawar-tawar ketika kita sedia mengikut Yesus.

Jalan kesetiaan memang sempit dan penuh cadas. Ada begitu banyak hal yang tak jarang kita korbankan.

Yesus adalah Teladan Agung, hal mana kesetiaan perlu dinyatakan melalui pengorbanan dan bukan ditunjukkan semata pada kata-kata.

Karena itu marilah kita hidup dengan rendah hati, taat dan setia kepada-Nya untuk memenangkan kehidupan ini. Ketika kita taat, Allah pasti beserta kita. Amin.

(Tribunmanado.co.id/Chintya Rantung)

Penulis: Chintya Rantung
Editor: Alexander Pattyranie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved