Senin, 11 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Suku di Filipina Ini Mirip dengan Suku Minahasa

Ternyata Suku Minahasa sangat mirip dengan salah satu Suku di pegunungan Filipina bernama Ifugao mulai dari fisik dan budayanya

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
Internet
Kemiripan antara Suku Ifugao Filipina dan Suku Minahasa di Sulawesi Utara 

Laporan Wartawan Tribun Manado Arthur Rompis

MANADO, TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah suku di pegunungan Filipina bernama Ifugao memiliki kemiripan fisik dan budaya dengan suku Minahasa.

Dalam foto yang diunggah pemerhati budaya Minahasa Rocky Oroh, suku tersebut memiliki pakaian yang mirip kabasaran.

Dengan paruh burung di topi, ornamen tengkorak binatang di dada, kain khas kabasaran yang berwarna merah, serta penarinya memegang daun Tawaang.

Suku tersebut juga memiliki kuburan mirip Waruga. Secara fisik, suku ini berkulit putih serta bermata sesikit sipit.

Mirip benar orang Minahasa.

"Suku Ifugao yg mirip dengan Minahasa di pegunungan Philipine. Diduga kuat penyebaran dari Suku Minahasa zaman dahulu," tulis Rocky Oroh di medsosnya.

Penelusuran Tribun Manado di Wikipedia, Ifugao adalah nama kolektif dari beberapa kelompok etnis Austronesia di Filipina, yang tinggal di wilayah pegunungan Luzon.

Suku-suku dataran tinggi tersebut tingga di enam provinsi Wilayah Administratif Cordillera: Abra, Apayao, Benguet, Kalinga, Ifugao, dan Provinsi Pegunungan, serta Kota Baguio dan provinsi tetangganya Nueva Vizcaya.

Ternyata suku tersebut punya kebiasaan unik. Seperti dibeber di Wikipedia.

"Sewaktu salah seorang kerabat mereka wafat, mayat kerabat yang wafat tersebut akan didudukan di kursi depan rumahnya. Lengan dan kaki diikat untuk menetapkan posisi agar tidak berubah. Seakan akan mayat tersebut masih hidup dengan duduk dikursinya. Mata pada mayat ditutup yang digambarkan agar jasad sudah tidak perlu lagi untuk melihat penderitaan orang yang masih hidup. Setelah itu, sepanjang delapan hari beberapa orang di desa bakal berkabung serta melakukan ritual peralihan untuk menolong jiwa almarhum meraih tempat paling akhir. Uniknya orang-orang yang hadir disana sekalipun tak terganggu dengan bau busuk yang disebarkan mayat, bahkan mereka menganggapnya sebagai hal yang sudah biasa".

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved