Pelaku Bom Bali Kisahkan Pertama Kali Ikut Upacara Bendera, Beri Cara Buat Napiter Tobat
Saat ditanya tanggapan soal bom yang terjadi di Surabaya, Umar Patek mengatakan mengecam perbuatan tersebut....
"Saya bisa berubah karena keluarga, karena mereka selalu memperhatikan saya, meski mereka menentang pemikiran saya, namun mereka tetap peduli dengan saya, ketika saya dipindahkan ke lapas porong ini, saya justru mendapatkan perhatian dari petugas,kita begitu dekat, apapun keluh kesah saya, mereka tanggapi dengan baik," ujarnya.
Umar patek lantas menceritakan kemauannya mengikuti upacara bendera dan menjadi petugas peingibar bendera,
"Pada tahun 2014 itu, saya akhirnya mau mengikuti upacara, setelah itu, saya sampaikan ke petugas lapas kalau saya ingin menjadi petugas pengibar bendera," ujar Umar Patek.
Saat ditanya, masihkah ada hubungan dengan Jamaah Islamiyah, Umar Patek mengaku sudah tidak berhubungan lagi.
Kemudian, Umar Patek menyarankan agar napi Teroris didekatkan dengan keluarga.
Baca: Waspada! Guru Teroris di Surabaya dan Sidoarjo Masih Berkeliaran, Terus Diburu Densus 88
"Jika keluarga mendukung pemikiran teroris, maka lapas napiter itu harus dijauhkan dari keluarga, tetapi jika keluarga tidak mendukung pemikiran napiter itu, maka harus didekatkan, karena keluarga pemegagang peran penting seorang napi teroris menjadi tidak radikal," ujar Umar Patek
Mendengar hal itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suhardi Alius tampak berkaca-kaca.
Setelah itu, ia tampak menjelaskan tugas BNPT.
Menurutnya, program tersebut untuk mantan narapidana dan keluarga narapidana.
Suhardi Alius tampak melihat kemauan Umar Patek yang jauh lebih baik.
"Secara humanis, saya melihat Umar patek mau berubah, ada sisi humanis yang bisa kita akses, sekeras apapun mereka bisa diubah," ujarnya.
Diketahui, Umar Patek adalah pelaku Bom Bali 1 yang menewaskan sedikitnya 202 orang tewas.
Atas perbuatannya itu, ia menjalani vonis 20 tahun penjara. (TribunWow.com/Woro Seto)
Simak selengkapnya: