Karena Kesombongan, Kota yang Disegani ini Runtuh

Kota menjadi salah satu kota yang berhasil dikuasi oleh orang-orang Mongol setelah menyombongkan diri sebagai kota terbesar di Asia Tengah.

Culture Trip
Kota Hantu di Ortar Kazakhstan Selatan. 

Beberapa cendekiawan lahir dari kota ini. Misalnya, pemikir, matematikawan, dan filsuf terkenal Al-Farabi, astronom matematika Abbas Zhauhari, ahli bahasa dan ahli geografi Iskhak Al-Farab, dan pengkhotbah Arystan-Bab.

Transformasi dramatis dari pusat kehidupan yang ramai ke kota hantu yang gersang dimulai pada tahun 1219.

Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan bagi bangsa Mongol untuk menghancurkan kota ini.

Para penjajah dengan kejam membantai penduduk sebelum mereduksi mereka yang tetap menjadi budak dan membakar kota menjadi abu.

Kota ini hancur lagi pada 1720 oleh Jungars dan tidak pernah benar-benar pulih kembali.

Hingga kini, kota ini menawarkan tidak lebih dari keheningan yang menakutkan dan stepa yang tak ada habisnya.

Meskipun ada penghancuran, legenda tetap muncul di mana beberapa ritual mengejutkannya telah hidup dan muncul di tempat tersebut.

Penyembelihan Kambing
Penyembelihan Kambing (Pinterest)

“Ada upacara keagamaan khusus di mana kami menyembelih domba dan kuda. Tapi karena ada banyak unta, kami juga menyembelih unta. Ritual ini dikenal sebagai Tas Attyk,” kata seorang warga.

Kambing yang dikorbankan
Kambing yang dikorbankan (Pinterst)

"Ritual ini berlangsung di awal musim semi, terutama ketika tidak ada hujan.”

“Daging itu dibagi dan diletakkan di atas meja untuk orang-orang, terutama orang miskin, dalam tindakan amal. Kami ingin menumbuhkan rasa kebersamaan,” tambahnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Intisari-Online.com dengan judul: Mengintip Kota Hantu di Asia Tengah yang Diluluh Lanttakan Bangsa Mongol karena Sombong

Editor:
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved