Produk Anak Bangsa Tak Kalah, Menkominfo: Ganti Facebook dengan CatFiz

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyarankan agar publik menggunakan media sosial

Produk Anak Bangsa Tak Kalah, Menkominfo: Ganti Facebook dengan CatFiz
KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTO
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara saat ditemui di Menara BTPN, Kuningan, Jakarta, Rabu (7/3/2018). 

"Di saat negara belum bisa memberikannya, Facebook sejak awal sudah mampu memberikan `marketplace' sederhana untuk rakyat mengembangkan usaha. Mereka tak hanya bertransaksi tapi juga promosi dan membangun reputasi dari sana. Masak semuanya harus gulung tikar karena persoalan kebocoran data?" katanya.

Bamsoet mengakui, saat ini sudah banyak pilihan marketplace di Indonesia. Transaksi juga jauh lebih aman daripada Facebook yang cuma sekadar media sosial. "Tapi dengan populasi pengguna Facebook dari Indonesia yang begitu besar, sekitar 130 juta akun atau 6 persen dari user global, UMKM tidak akan pernah bisa meninggalkan Facebook sepenuhnya karena dia sudah menjadi pusat aktivitas digital masyarakat," katanya.

Bamsoet mengakui bahwa persoalan kebocoran data pengguna adalah masalah serius. Dan Facebook selama ini tak pernah transparan. Baru setelah data pengguna bocor dan dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica, praktek tak terpuji Facebook selama ini terbongkar.

"Tapi kita juga harus tetap mendudukan persoalan. Data seperti apa sih yang bocor itu? Data pengguna yang bocor bukan NIK, Nomor Kartu Keluarga, foto-foto, atau chat log. Yang bocor adalah data yang memang sudah disetel untuk publik," katanya. Meskipun begitu, kata Bamsoet, semua data tersebut tetap private. Dan Facebook tidak bisa serta merta mengambilnya untuk kepentingan di luar persetujuan pengguna langsung.

"Ini yang harus kita permasalahkan dan minta pertanggungjawabannya kepada Facebook," pungkasnya.
Diberitakan, Facebook mengakui banyak data user di dunia, bocor. "Secara total, kami pikir informasi Facebook 87 juta orang kebanyakan di Amerika Serikat kemungkinan telah dibocorkan ke Cambridge Analytica," tulis Facebook dalam keterangannya.

Indonesia termasuk salah satu negara dengan kebocoran data Facebook terbesar. Menurut Facebook, data milik lebih dari 1 juta pengguna media sosial tersebut di tanah Aair telah bocor ke Cambridge Analytica. Indonesia duduk di urutan ketiga dalam hal ini, setelah Amerika Serikat dengan kebocoran data 70,6 juta pengguna Facebook dan Flipina dengan kebocoran data 1,1 juta pengguna Facebook.

Negara-negara lain dalam daftar lokasi kebocoran data pengguna Facebook termasuk Inggris, Meksiko, Kanada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia yang masing-masing paling tidak mencatat angka ratusan ribu. Kendati demikian, pihak Facebook mengatakan tidak mengetahui persis data apa saja yang dibocorkan ke Cambridge Analytica.

Jumlah pengguna dalam grafik di atas merupakan perkiraan yang dinilai terbaik untuk mencakup angka maksimal dari akun yang terdampak. Tidak hanya Cambridge Analitica, data pengguna Facebook Indonesia juga bocor ke CubeYou.

CubeYou adalah firma analis pihak ketiga yang mengumpulkan data pengguna Facebook melalui kuis kepribadian. CubeYou diduga menyerahkan data pengguna Facebook ke para pengiklan agar lebih mudah menyasar target pasar. Meski demikian, Rudiantara belum dapat memastikan berapa jumlah data pengguna Facebook di Indonesia yang bocor ke Cambridge Analitica dan ke CubeYou. (Tribun Network/fia/fik/kps/wly)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved