Sabtu, 18 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Anak Bisa Alami Gangguan Mental Karena 'Siblings Bullying'

Moms, jika ini terjadi berulang-ulang, tandanya sedang terjadi 'sibling bullying' diantara mereka.

Editor:
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Moms, pertengkaran kakak dan adik saat masih kecil mungkin menjadi hal biasa.

Ada saja yang diributkan, misalnya saat mereka berebut mainan, saling ejek, atau bisa saja karena kakak suka usil dengan adiknya.

Moms, jika ini terjadi berulang-ulang, tandanya sedang terjadi 'sibling bullying' diantara mereka.

Jangan anggap tidak akan berdampak apapun pada kesehatan psikis mereka.

Nyatanya, sebuah penelitian membuktikan, anak yang menjadi korban sibling bullying di masa kecil punya kemungkinan tiga kali lebih besar mengalami gangguan psikotik di usia dewasa.

Dikutip dari Science Daily, penelitian ini baru dilakukan oleh University of Warwick dan dipimpin oleh Profesor Dieter Wolke (penulis senior) di Warwick's Department of Psychology.

Ini merupakan studi pertama yang mengeksplorasi hubungan antara 'sibling bullying' dan perkembangan gangguan psikotik.

Hampir 3.600 anak-anak dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children menyelesaikan kuesioner rinci tentang 'sibling bullying' pada usia 12 tahun, dan kemudian mengisi pemeriksaan klinis standar yang menilai gejala psikotik saat mereka berusia 18 tahun.

Dan sebanyak 664 remaja merupakan korban 'sibling bullying', 486 anak-anak pengganggu murni untuk saudara mereka.

Dan 771 anak-anak merupakan korban bullying, kejadian tersebut melibatkan saudara kandung dan diintimidasi saudara mereka pada usia 12 tahun.

55 dari total 3.600 anak-anak dalam penelitian ini telah mengembangkan kelainan psikotik pada usia 18 belas tahun.

Para periset menemukan semakin sering anak-anak terlibat dalam sibling bullying, baik sebagai pengganggu, korban, atau keduanya, semakin besar kemungkinan mereka mengembangkan kelainan psikotik.

Anak-anak yang paling berisiko korban 'sibling bullying', dan yang keduanya menjadi korban dan menggertak saudara mereka (korban pengganggu).

Sedangkan anak yang menjadi korban di rumah maupun oleh teman sekolah, empat kali lebih mungkin mengalami gangguan psikotik daripada mereka yang tidak terlibat dalam intimidasi sama sekali.

"Bullying oleh saudara kandung ini diabaikan sebagai trauma yang bisa menyebabkan masalah kesehatan mental serius seperti gangguan psikotik," ungkap penulis senior, Profesor Dieter Wolke dari Departemen Psikologi Universitas Warwick.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved