Ketika Siswa SMP Bitung Ini Jadi Mucikari, Teman Sendiri pun Ia ‘Jual’
Tak sedikit anak remaja terjerumus ke dunia pelancuran di Kota Bitung. Tidak hanya melacur, para remaja ini menjadi mucikari.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tak sedikit anak remaja terjerumus ke dunia pelancuran di Kota Bitung. Tidak hanya melacur, para remaja ini juga menjadi mucikari. Yang dijual ke pria hidung belang adalah teman sendiri.
Merry Makasudede Supit, psikolog serta pemerhati anak di Kota Bitung membeber, ia pernah menangani seorang siswa SMP berusia 15 tahun yang menjadi mucikari.
"Ia menjual teman-temannya ke pria hidung belang," kata dia belum lama ini.
Bunda Dede, panggilan akrabnya menceritakan, bak mucikari profesional, sang remaja beroleh persentase dari penjualan itu. "Misalkan tarifnya Rp 300 ribu ia ambil Rp 100 ribu," kata dia.
Dikatakannya, pelacuran remaja tumbuh subur di Bitung.
Ia mengaku baru saja menyelamatkan lima remaja yang diduga disuruh menjual diri. "Mereka ditemukan di tepi pantai," kata dia.
Diamatinya bibit pelacuran sangat banyak. Pernah, dia menyetop mikrolet yang penuh dengan siswa-siswi.
"Di dalam mikrolet mereka pegang-pegangan, ini kan bahaya, bisa menjurus ke sana," ujar dia.
Supit meminta semua pihak menyeriusi masalah tersebut.
Sebut dia pemerintah perlu memperketat pengawasan di warnet-warnet, sebab disanalah diduga perekrutan terjadi.
"Khusus orangtua, awasi anak, jangan tidur sebelum mereka pulang. Jangan biarkan mereka," kata dia.
Kadis Sosial Bitung Steven Suluh beberapa waktu mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah pelacur di bawah umur.
Sebut dia, pihaknya bersama dinas pendidikan berupaya memasukkan kembali mereka ke sekolah. "Kita upayakan, kan mereka masih usia sekolah," ujar dia.
Anak yang dicabuli berpotensi terjerumus ke dalam lubang percabulan. Langkah drastis diambil Pemkot Bitung terkait meningkatnya kasus kasus cabul di Bitung akhir-akhir ini.
Kadis Pemberdayaan Perempuan dam Perlindungan Anak Bitung Telly Lengkong membeber, pihaknya akan turun ke sekolah untuk mengedukasi anak tentang bahaya pelecehan seks.
"Kami akan ajari semua pada mereka, contohnya jika menghadapi pelecehan harus teriak, lalu lari, hal hal seperti itu," kata dia.
Dikatakan Telly, ada enam kasus cabul anak pada awal tahun ini. Tahun lalu, terjadi 27 kasus. "Angka itu, cukup tinggi hingga kami perlu mengambil langkah pencegahan," kata dia.
Telly menengarai, faktor ekonomi jadi salah satu penyebab maraknya pencabulan anak.
"Contohnya rumah kecil, anak dan orang tua berada satu kamar, itu berpotensi menyebabkan cabul, mustinya kamar orangtua dan anak dipisah," kata Telly. (art)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/polda-sulut_20180223_074922.jpg)