Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Dokter Tigor Silaban yang Melegenda di Pedalaman Papua

Gizi buruk di Asmat adalah satu di antara tiga isu utama yang ingin disampaikan Zaadit kepada Jokowi saat itu.

Penulis: | Editor: Aldi Ponge
Facebook
Tigor Silaban bersama masyarakat pedalaman di Papua. 

Ia adalah alumnus SMA Kanisius Jakarta tahun 1978. Karir kedokterannya dia habiskan di Papua.

Tigor memilih bertugas di Pedalaman Oksibil, Puncak Jaya, Papua sejak 1979.

Mulai menjadi dokter di kawasan pedalaman, sampai menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan di Kabupaten Jayawijaya sampai tahun 1993.

Ia adalah putra Friedrich Silaban, seorang wakil kepala proyek pembangunan Masjid Istiqlal.

"Selama puluhan tahun di pedalaman Papua itu, tak terbilang lagi perjalanan yang ditempuhnya berminggu-minggu lamanya sekali perjalanan, dari kampung ke kampung untuk menggapai rumah penduduk yang sakit.

Sampai hari ini, Tigor Silaban masih di Papua. Namanya menjadi legenda di pedalaman. Tidak heran, dalam dirinya mengalir darah legenda lain, arsitek kenamaan yang merancang Masjid Istiqlal Friedrich Silaban, ayahnya," demikian postingan akun Facebook Montana Tobink, Senin (5/1/2018).

Tak sedikit orang meragukan pilihannya mengabdi di pedalaman Papua.

Dalam wawancara Suara.com Oktober 2015 silam, Tigor mengklaim keselamatan pasien nomor satu.

Selama 34 tahun aktif menjadi dokter, tidak ada satu pasien pun yang meninggal di meja operasinya.

"Karena nggak banyak dokter yang memilih untuk praktik di perdalaman. Kebanyakan di kota. Temen-temen saya bilang, ‘lu dokter gila, gue nggak habis pikir’," cerita Tigor.

Ia mengatakan kiprahnya dimulai pada saat dahulu semua calon dokter mengikuti Instruksi Presiden (Inpres) tentang pengiriman dokter ke daerah.

Dokter yang baru lulus masuk ke daerah-daerah yang perlu dioptimalkan pelayanan kesehatannya.

Tapi belakangan instruksi tersebut sudah tidak bisa memaksa seseorang.

"Saat itu kita ditempatkan di puskesmas. Jadi ada benarnya Inpres itu dulu. Penempatan sampai ke puskesmas pembantu, jadi ada tenaga dokter di sana. Inpres itu dimulai tahun 70-an awal. Saya tahun 1979 ke pedalaman Papua. Dalam Inpres itu ada paket membangun puskesmas, puskesmas pembantu, dan semua alat kesehatan, tenaga dokter gigi, ahli gizi, perawat, bidan, dan tenaga lingkungan dikirim dari Jakarta," katanya.

Kebutuhan dokter di Papua selalu tercatat. Apabila dibutuhkan tinggal menghubungi pusat dan kebutuhan itu akan dikirim .

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved